Personalia dan Jurnalisme
Personalia, atau lebih jelasnya sebagai metode rekrutmen karyawan, adalah hal penting bagi setiap perusahaan, dalam bisnis apapun. Lebih-lebih dalam bisnis jurnalisme. Saya setuju dengan tulisan Andreas Harsono, saya setuju cara perekrutan jurnalis harus diubah.
Empat tahun lalu saya tidak sengaja bekerja di sebuah surat kabar nasional terkemuka di Jakarta. Pekerjaan saya sih tidak berhubungan dengan jurnalisme, namun saya bahagia, akhirnya saya bisa juga dekat dengan impian dan cita-cita masa kecil saya, menjadi wartawan. Saya senang akhirnya bisa sedikit menimba ilmu, saya ingin tahu apa dan bagaimana cara wartawan bekerja.
Tapi, kesenangan itu sedikit kemudian berangsur pudar, setelah saya tahu bagaimana wartawan bekerja. Saya kecewa, seperti juga diungkap Andreas tadi, banyak wartawan tidak bisa menulis. Tapi yang saya lihat lebih parah lagi.
Pada suatu saat, hari senja sudah tenggelam pekat, jam kerja saya pun usai. Ada teman wartawan mengajak saya datang ke peliputan, ada konferensi pers partai. Wah, saya pikir, kebetulan yang menyenangkan, jadi saya bisa sedikit belajar bagaimana wartawan bekerja. Saat itu lagi hangatnya suhu politik di Indonesia. Dengan mobil kijang kantor, kami tiba ditempat bersama seorang tukang potret koran itu. Tiba di sana, acara belum dimulai, maka biar tidak mengganggu kerja kedua teman itu, saya pamit untuk melihat-lihat suasana. Hingga kemudian acara sudah dimulai, konferensi dan tanya jawab berlangsung seru.
Hal yang menarik terjadi di belakang, ketika konferensi pers sudah hampir usai, ada beberapa wartawan dari media “kelas teri” dan wartawan lain yang baru datang. Saya terkejut, mereka “dapat” apa kalau datang waktu begini? Acaranya saja sedang ditutup oleh panitia?
Saya melihat “wartawan pemalas” itu menghampiri teman-temannya, termasuk menghampiri teman saya. Setelah saling jabat tangan, saya lihat mereka melihat catatan teman-teman yang sudah datang sebelumnya. Hingga kemudian acara selesai. Saya ikut pulang. Saya kemudian tahu, bahwa hal seperti yang dilakukan “wartawan pemalas” tadi, adalah praktik lumrah setiap wartawan di Jakarta, atau mungkin di seluruh Indonesia?
Kembali ke rekrutmen wartawan, beberapa waktu kemudian setelah agak lama berkenalan dengan dunia jurnalisme, saya kemudian tahu bahwa profesi wartawan adalah pilihan paling akhir dari beberapa pekerjaan “bermutu” lainnya (saya tidak bermaksud melecehkan profesi ini, tapi kenyataannya demikian). Banyak wartawan lama, ternyata punya latar belakang bukan jurnalisme atau komunikasi. Banyak pula wartawan kesasar, karena sudah suntuk tidak diterima di berbagai ladang pekerjaan yang menjanjikan lainnya, pilihan wartawan akhirnya cukup memadai. Belum lagi kalau kita berbicara ke sub pekerjaan di bidang jurnalisme, seperti bidang editing, bidang layout yang kadang-kadang susah mengerti arti tulisan dan sesuka hati memotong judul karena alasan tempat yang tidak cukup. Belum lagi kalau berbicara tentang tingkat kesejahteraan yang kurang memadai, saya pernah tahu berapa gaji seorang redaktur dan wartawan junior. Belum lagi kalau menyangkut resiko pelaporan wartawan dengan kekuasaan, lebih-lebih menyangkut pemerintahan di daerah. Dan lain, dan banyak lainnya.
Sepertinya saya setuju dengan Wendell “Sonny” Rawls Jr. teman ngobrol Andreas itu. Tes psikologi, tes saringan indeks prestasi wartawan, dan tes lain adalah hal remeh bila menyangkut profesi seorang wartawan. Jangan lupa, banyak orang bengal yang akhirnya melupakan pendidikan, tapi dia punya bakat dan naluri wartawan yang baik.
Hal pertama paling penting bagi jurnalisme adalah wartawan yang baik. Hal kedua adalah tingkat penghargaan kepada wartawan yang baik. Hal ketiga adalah kebijakan media yang baik. Seorang wartawan yang baik akan mampu melihat berita yang bagus, dan lebih-lebih kalau mampu menuliskannya dengan baik dan jujur. Penghargaan kepada wartawan yang baik akan mengurangi praktik amplop kepada wartawan, yang imbasnya adalah mutu dan independensi seorang wartawan dengan sumber beritanya. Hal terakhir, kebijakan media yang baik akan memelihara suhu dan semangat independensi media dalam pemberitaan. Bila semua terlaksana, kita akan mempunyai pers yang hebat, yang menjaga konstitusi kita dari praktik dan korup oleh kekuasaan. Sayang, biarpun asap mengepul dari hutan Kalimantan dan Sumatera, asap jurnalisme masih enggan mengepul dari dapur media kita.
Comments
Commenting is closed for this article.

— sasmito · 13/02/06 03:56 AM · #
Saya setuju dengan pendapat di atas. Dalam mencari seorang wartwan haruslah melihat tulisan terlebih dahulu. Namun yang ingin saya komentari adalah permasalahan, apakah seorang wartawan itu harus berlatarbelakang ilmu jurnalistik atau tidak? Saya pikir seorang wartawan tidak harus berasal dari kampus jurnalistik. Seseorang boleh saja menjadi seorang wartawan apabila mereka telah memenuhi kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki seorang wartawan .Misalkan orang-orang yang waktu kuliah mengikuti Lembaga Pers Mahasiswa selama kuliah. Saya pikir mereka termasuk orang-orang yang sudah mampu dalam bidang jurnalisme. Dan satu point yang lebih dari mereka adalah pengalaman reportase yang lumayan cukup ketika mereka berada di lembaga pers mahasiswa. Jadi yang perlu diperhatikan dalam pemilihan wartawan adalah mampu tidaknya seseorang dalam bidang jurnalistiknya, terlepas mereka berasal dari kampus jurnalistik atau tidak.Sasmito, mahasiswa UNJ.
— imran · 14/03/06 11:03 AM · #
Terimakasih buat tulisan, dan komentar-komentar menarik ini. Sedkitnya, saya jadi meyakini kalau masih ada orang-orang yang berwacana mengenai jurnalisme dengan semangat idealisme jurnalistik itu sendiri. Karena, menurut hemat saya, di tengah keterbukaan ini profesi jurnalistik sangat coreng moreng oleh dominasi kaum "bodrex" yang nota bene tidak memiliki sense of journalism, bahkan (sangat mungkin) tidak memiliki sense of human. Ternyata, mental bodrexisme ini tidak saja menjangkiti wartawan di lapangan, tetapi, para petinggi media (tertentu) juga menghidupi diri, keluarga dan medianya dengan praktek busuk itu. Kalau praktek di lapangan, mungkin bukan lagi rahasia umum.Tetapi, yang ini beda. Terakhir saya bekerja di sebuah media yang kantor redaksinya beralamat di Gedung Dewan Pers, majalah "pas-pasan", Sebut saja begitu. Dengan gaji minim dan fasilitas seadanya, saya menerima keadaan tersebut karena memang sulit mencari kerja. Hingga pada sebuah deadline, saya dihadapkan dengan realitas yang sulit diterima. Bayangkan, saya disuruh mewawancarai ulang seorang narasumber oleh pimpinan redaksi, padahal berita sudah harus naik cetak malam itu juga, sedangkan tulisan yang ada, menurut saya cukup menarik. Bahkan, ada beberapa fakta menarik seputar rencana recall seorang anggota DPR waktu itu. Yang membuat saya terkejut, saya akhirnya mengetahui bahwa pimpinan saya melakukan tawar menawar dengan narasumber untuk memutar balik fakta sebenarnya. Sampai-sampai, si narasumber dengan arogan mengatakan, (menurut pemahaman saya tidak semestinya dia mengatakan hal itu). Dia katakan bahwa saya berusaha mengadu domba dirinya dengan narasumber saya yang lain. Padahal, apa yang saya lakukan adalah upaya konfirmasi atas pernyataan si narasumber itu dengan narasumber saya yang lain. Karena dia memberikan statemen tentang suatu fakta yang memang harus saya konfirmasikan dengan sumber yang dia maksudkan itu.
Setelah semuanya jelas bagi saya, tidak ada pilihan lain selain "minggat", karena tulisanpun substansinya memang dirubah.
Melalui coretan ini, saya tidak berpretensi macam-macam. Setidaknya, kalau ada rekan-rekan yang ingin, atau memang kepepet memasuki dunia jurnalistik. Tetaplah nyalakan hati nurani, karena kebohongan di tulisan anda adalah kebohongan "nasuha" pada khalayak pembaca. Hati-hati memilih media tempat bekerja, kalaupun memang ada indikasi bodrexisme, mungkin lebih baik bisnis motor seken atau mobil seken aja. Terimakasih.