Playboy Indonesia Pornografi Indonesia
Ada berpuluh majalah yang mengusung eksotisme wanita, mengangkat seks sebagai tema utamanya, dan kekerasan pada wanita pada umumnya. Mereka beredar seperti jamur, tapi tidak ada larangan atas kehadiran mereka. Kini, ketika Playboy mencoba hadir di Indonesia, gemuruh kontroversi mengalir ke seluruh negeri. Ada apakah?
Beberapa tahun lalu, saya terkejut ketika majalah FHM muncul di negeri ini. Majalah FHM (For Him Magazine) adalah majalah lelaki dewasa yang isinya kita tahu berisi gambar seksi dan hot. Citranya, kalau menurut saya, topik bahasan majalah ini lebih hard dibanding Playboy, tetapi ia bukan majalah parno. Ada foto-foto seksi, pose-pose yang sangat minim dan menggoda, saya kira saat itu bakal ada rame-rame untuk menentang kemunculan FHM. Tapi toh hingga sekarang tidak terjadi apa-apa.
Lalu muncul banyak majalah lain. Saya tidak paham untuk menyebut satu-satu. Tapi kita pasti sadar dan sepakat bahwa inilah era keterbukaan media di Indonesia. Serbuan franchise media internasional dipastikan tidak terbendung lagi. Majalah hot terakhir yang saya lihat adalah Maxim. Saya pernah lihat majalah ini terpampang di kios dan lapak koran dekat rumah. Padahal, bagi yang tahu, majalah ini seperti saudara kandung media porno. Dan ini tidak dilarang. Tidak diprotes pak RT. Tidak didemo oleh mereka yang mengaku sebagai Front Pembela Islam (FPI). Ini lucu, Islam tidak perlu dibela bung! Gusti Allah tidak perlu dibela, kata Gus Dur.
Kemudian Playboy menyeruak ke khasanah media kita baru-baru ini, dan kita tahu mereka menjadi kontroversi. Kenapa Playboy Indonesia dilarang? Itu yang jadi rasa penasaran di benak saya.
Kita coba pikir dan ulas satu-satu. Kalau menurut saya, majalah FHM punya foto yang seksi dan menggoda, tapi dari topik bahasannya, majalah mereka punya bahasa lebih hard dan vulgar. Saya pernah menengok dan curi baca majalah ini di kios jaringan majalah bekas di Newstand Jakarta. Majalah Maxim demikian pula. Tapi terus terang saya tidak tahu isi kedua majalah ini dalam versi Indonesia, karena saya belum pernah membeli dan curi baca.
Kita semua tahu Playboy berisi foto nudes. Tapi bagi yang mengerti, bahasan Playboy sebenarnya nggak ringan-ringan amat, sebenarnya mereka media dengan topik cukup serius. Saya juga tahu banyak penulis peraih hadiah Pulitzer, hadiah Nobel bidang sastra, dan penulis terkenal lain menulis di Playboy untuk cerpen. Wawancara Playboy juga terkenal serius dan bagus.
Nah, yang membikin bingung, kenapa FHM, Maxim, dan berpuluh media dan tabloid semi-porno (bahkan banyak tabloid yang memang tujuannya mengumbar kemesuman sebagai daya tariknya) tidak pernah dimasalahkan oleh masyarakat kita. Apalagi oleh FPI?
Media-media porno itu tidak pernah diberangus. Tidak diprotes. Tidak dibakar. Mungkin ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang gatel lihat lapak memerkan udel dan payudara besar di sampulnya. Atau mungkin ada yang pernah memprotes, tapi gemuruhnya sangat berbeda dengan situasi sekarang. Semua seperti sepakat bahwa itu adalah hak setiap orang untuk memproduksi majalahnya. Kalau kita tidak membelinya kan lama-kelamaan mereka bangkrut.
Lalu kenapa Playboy dilarang?
Ada masalahkah dengan isinya? Ada masalah dengan redaksional mereka karena mengusung wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer? Apa mereka melanggar hukum kita?
Kita bisa tahu jawabannya bahwa tidak satu pun jawaban pertanyaan di atas akan memberatkan Playboy. Lalu kenapa harus dilarang? Padahal Hugh Hefner dalam sebuah siaran TV menyatakan setuju Playboy Indonesia tidak ada halaman tengahnya (yang berisi gambar nudes itu kali ya?), dan ia menghormati budaya Indonesia.
Apa mungkin kita ada masalah dalam menilai standar moral kita sendiri?
Artinya, kalau kita semua tidak memprotes media yang terbit sebelum Playboy hadir di sini, dan kita tahu media itu lebih parno dari Playboy, berarti kita juga harus terima dengan terbuka kehadiran majalah ini.
Seorang pedagang kaos di sebuah berita televisi bilang, “Wah saya ndak tahu itu Playboy. Tahunya ya kaos ini gambarnya kelinci itu.” Banyak teman sekos saya dulu suka memakai kaos bergambar kepala kelinci berdasi itu. Saya juga punya sebuah sendal slop merek Playboy, hanya gara-gara ada diskon besar-besaran di Pasaraya.
Saya belum pernah lihat FHM Indonesia. Saya belum pernah lihat Maxim Indonesia. Saya juga belum lihat Playboy Indonesia. Beli juga tidak. Harganya terlalu mahal. Lebih-lebih Playboy, disamping sungkan sama istri, tapi saya ragu apakah kualitas redaksional di Indonesia bisa sekuat redaksional penerbitan luar (kalau saya ingin melahap isi seriusnya).
Ada atau nggak ada playboy, pelacuran ada di mana-mana. Ada nggak ada Playboy, cowok-cowok atau bapak-bapak playboy tetap bergentayangan di mana-mana.
Omong-omong Playboy dan Pornografi, harusnya kita meniru Malaysia dalam soal penanganan ini. Judi dan pelacuran adalah momok yang merepotkan setiap negara. Tapi Malaysia punya Genting Highland, singgsana para penjudi kelas berat termasuk orang kaya dari Indonesia. Kalau judi dilegalisasi pajaknya bisa menyumbang untuk pembangunan, sebagaimana Ali Sadikin dahulu mendirikan Jakarta dengan tangan besinya itu. Untuk Jakarta sekarang, Ali Sadikin pernah bersumpah ia bersedia masuk neraka kalau menurut Allah legalisasi judi di Jakarta itu dosa. Ia ngomong demikian dalam kapasitasnya saat itu sebagai penasihat Sutiyoso, Gubernur DKI.
Menurut saya, budaya Indonesia sebenarnya cukup toleran dengan pemisah-pemisahan yang jelas antara standar moral dan kondisi realita di masyarakat. Di kota kelahiran saya, dulu ada lokalisasi pelacuran di desa Tunggorono, dan semua orang seperti menyadari itu adalah konsekuensi yang harus ada karena realitas masyarakat pasti ada pelacuran. Pun pemerintah sudah mengaturnya. Entah sekarang masih apa tidak.
Lokalisasi pelacuran pernah dilaksanakan Ali Sadikin. Namun kemudian dibubarkan, dan akibatnya pelacur menyebar di mana-mana, pernah suatu saat gubug-gubug yang diduga sebagai sarang pelacuran dibakar masyarakat desa ramai-ramai.
Orang-orang mengamuk ke pelacuran. Orang-orang marah karena perjudian. Orang-orang melempari kantor Playboy. Tapi semua toh tetap seperti sedia kala. Yang bisa akses Playboy Inggris pasti masih menikmatinya hingga saat ini. Pornografi Indonesia masih jalan terus. Perjudian masih jalan terus.
Budaya amuk itulah yang buruk.
Semua harus dikembalikan ke penegakan hukum yang benar. Ada polisi yang bertugas di sana, bukan FPI atau pasukan gelap atau putih lainnya.
Saya berpikir, apakah gemuruh penolakan pornografi ini hanya fenomena sesaat? Ada seorang sosiolog menyebut ini sebagai perilaku khas Indonesia yang anget-anget tahi ayam. Apakah nanti, setelah kontroversi ini reda, khususnya setelah kontroversi RUU APP ikut surut, akankah media parno beredar luas lagi? Malah lebih menjamur dan menggurita?
PS: Kalau saya sih pingin ada majalah New Yorker versi Indonesia. Majalah ini adalah langganan juara jurnalisme tingkat dunia, liputannya berhalaman-halaman, dibuat berbulan-bulan bahkan tahunan. Salah satu penulis New Yorker difilmkan dalam judul Capote. Tapi saya ragu ada orang Indonesia yang mau memberi modal untuk majalah ini, majalah bagus biasanya tidak laku di negeri ini.
Update 20 April 2006 15:52:
Dari bloGombal, “MAJALAH Prospektif bikin cerita sampul yang juicy: aspek ekonomis bisnis seks. Di dalamnya termasuk bisnis prostitusi, video, premium call, sampai media cetak hot. Edisi 17-23 April 2006 itu mengutip sebuah hasil penelitian [Khofifah?] bahwa omset bisnis syahwat mencapai Rp 11 triliun [setahun?]. Lima tahun kemudian, editornya memperkirakan, omsetnya jadi Rp 12 triliun, dengan kesimpulan “hampir sama dengan anggaran Departemen Pekerjaan Umum untuk tahun 2006”.”
Coba 20 persen dari itu atau 40 persen dari bisnis itu berapa ya? Pasti lebih cukup untuk subsidi BBM yang besar kompensasinya saja sekitar 4,4 triliun.

didats, 20/04/06 04:35 PM:
tulisan bagus banget! hehehe...pemikiran yang cerdas. aku juga berfikir,
playboy berani masuk indonesia, karena mungkin mereka melihat situasi. majalah maxim, fhm dan lainnya bisa masuk. kenapa mereka nggak?
sekali lagi, image branding playboy terlalu kuat.
johan, 20/04/06 04:56 PM:
kalo saya mau bikin majalan Playgroup .. logonya Spongebob ... ttg FPI gimana kalo ketuanya diangkat jadi menteri penegakan moral .. asik kayaknya ...lita, 20/04/06 05:47 PM:
lha... lha... perusakan memang tidak bisa dibenarkan, tapi judi dan porno tetap haram. kalau dilegalkan, jadinya pemerintah (yang sudah menanggung puluhan masalah) bertambah dosanya satu.apalah arti satu dosa? hohoho.... kalau yang melakukannya orang banyak, bukankah jadi kumulatif?
leh... kok saya jadi ngomong beginian di sini tho
kasian fpi, 20/04/06 07:49 PM:
saya heran, banyak logika orang soal pornografi and playboy akhir-akhr ini pada gak jalan. sekali lagi gak jalan! salah satunya, seperti yang di artikel ini. kenapa playaboy didemo, trus majalah lain nggak (fhm, maxim etc)? coba aja anda pikir, apa mungkin fpi sentimen dgn playboy doang. trus sudahkan dicek ke fpi cs bahwa mereka cuma menolak playboy, trus fhm cs diterima. makanya aneh kan??? saya gak pernah berhubungan dgn fpi, tapi logika saya mengatakan tak mungkin mereka menolak playboy, trus menerima fhm, maxim dan tabloid2 porno itu. dugaan saya, mereka kali gak tau fhm and maxim, taunya ya playboy aja karena playboy yang sudah sangat terkenal. tqBen, 21/04/06 04:26 AM:
mungkin semua itu adalah urusan JAIMArif, 21/04/06 10:20 AM:
lita:judi dan porno tetap haram, menurut agama kita. tapi menurut hukum, kalau kita atur, judi dan porno bisa dirapikan tidak semrawut seperti sekarang, dan bisnis yang ada sejak nenek moyang manusia hidup ini akan menjadi sumber dana untuk pembangunan.
Pitra, 21/04/06 02:54 PM:
Kalo ternyata nanti ada yg ngelisensi majalah Hustler (yg kalo di US isinya jauuuh lebih parah daripada Playboy/Penthouse), tapi ternyata isinya di Indonesia gak jauh beda daripada FHM/Stuff/Maxim, kira-kira akan diprotes gak?Brand Playboy emang udah ketanam kalo itu majalah nudes.. jadi mau sampe mampus, persepsi itu gak bisa hilang, meski nyatanya majalah itu malah lebih sopan daripada Popular/Matra. Itulah kuatnya brand.
tukangkoding, 21/04/06 09:42 PM:
wowowo come on ..judi meski diatur dengan rapi pun tetap esensinya membuat sengsara bagi manusia . Jangan korbankan manusia satupun dong demi kemajuan bangsa .
wahyoo, 22/04/06 05:34 PM:
Saya jarang mikir berat...jadi maaf kalo tanggapanya asal :D, tapi saya setuju kalo hal2 kayak porno + judi dibikin tempat khusus (enaknya dimana?) kayak di ameraka dgn vegasnya + malaysia dg Gentingnya...kan kalo dikumpulin, orang2 yg cuma iseng + dana ngepres jadi mikir2 mau kesana?Jadi biar yang kesana yg niat + mampu (memeriahkan hidup mereka) saja...yang mersaa tidak perlu + tidak setuju ya gak usah kesana hehehe
Playboy indonesia ble'e deh, rugi beli...wong ada internet kok (dg segala kemudahan akses web porno + judi dll) hehe
lita, 23/04/06 12:24 AM:
betul, jadi rapi. tapi sumber dana untuk pembangunan? pembangunan dari uang haram? hooo... jangan deh.ya... ya... sekarang memang korupsi sudah mengakar. tapi tidak lantas menjadi sah dan benar untuk menambah satu lagi permasalahan sumber uang haram kan?
Noka, 24/04/06 07:31 PM:
a very nice article, bagaimanapun juga saya lebih setuju playboy dan konco-konconya tidak beredar di Indonesia, kalaupun mau diperbolehkan beredar, yang parno-parno itu mbok dipajak-in yang tinggi, jadi harganya mahal, cuman kalangan tertentu yang bisa menjangkau, dan seperti kata pak oton, distribusinya diawasi dengan ketat, hanya untuk 18th keatas.endri, 25/04/06 11:16 PM:
Saya sangat tidak setuju dengan tindakan FPI dan kelompok yang sejenisnya, dan juga amat sangat sangat tidak setuju dengan keberadaan majalah playboy dan sejenisnya. Harus ada jalan tengah serta solusi yang apik dan jitu terhadap semua permasalahan bangsa ini.Sampai sekarang pun saya masih memikir-mikirkan "apa yah manfaat yang bisa bangsa Indonesia ambil dengan keberadaan majalah playboy dan konco-konconya di negeri ini? coba di urut-urutkan antara manfaat dan dampak negatifnya, mana yang paling banyak, dan tentu hasilnya sudah bisa ketebak.
Saya tidak melihat adanya indikasi bahwa dengan keberadaan majalah playboy dan sejenisnya dapat mencerdaskan bangsa ini, malah sebaliknya mengajarkan bangsa ini jadi bangsa yang hedonis.
Trus lagi masalah lokalikasi pelacuran, apakah itu solusi yang jitu dan cerdas?
BTW, tulisan ini sangat bagus untuk direnungkan dan jadi masukan.
Cah Emburi, 26/04/06 09:19 AM:
Wowww, arif artikel kamu, selalu membuat aku angkat topi. dan harus diinget di Negeri ini, Kita beraneka ragam suku dan budaya, seperti temen-temen komentari bahwa Playboy sudah merasuk ke jiwa setiap orang sebuah image yang negatif, Ada tidaknya Playboy tidak akan berpengaruh. Masyarakat kita memang dalam taraf pembelajaran dan suatu saat bila akan menganalisa Ulang dan tertawa. Mungkin kita waktu TK tidak bisa baca semakin usia kita bertambah kita akan tahu mana yang sebenarnya dan seharusnya. dan Perlu diinget lagi Negeri kita BHINEKA TUNGGAL IKA,kok jadi serius banget he..he.. mas arif saya pembaca setia artikel kamu siplah....
bobie & maria, 26/04/06 10:20 AM:
ah kalo gue sih masa bodo sama yang begituan..seharusnya manusia harus berpikir lebih terbuka, kalo nggak mao liat ya udah gak usah liat/beli..lagian yang jual juga gak maksa kan?kalo dianggap hina atau dosa ya udah jangan disentuh sama sekali..lagian aneh banget sih ini dibilang porno..itu dibilang porno.. sebenarnya yang porno tuh majalah ato otak org2 yang ngomong sih..udahlah dosa2 ditanggung masing2..jangan terlalu heboh..katanya negara demokrasi..gak mikir apa dibalik majalah itu kan banyak mulut yang dapat dinafkahi..sekarang mending PLAYBOY benahi cara sirkulasi penjualannya aja, biar anak dibawah umur gak bisa sembarangan dapetin..kalo udah bener apa lagi.. toh majalah ini kan majalah untuk orang dewasa yang normal..bobie & maria, 26/04/06 10:26 AM:
PLAYBOY majalah untuk manusia dewasa dan normal!!!kalo gak mau liat ya nggak usah beli, susah amat..kenapa sih orang2 disini hobinya protes aja tanpa punya solusi atau hasil yang lebih baik lagi????kreatif dikit dong ah!!jangan protes2 sanasini mulu..gak tau apa dibalik produksi majalah tersebut banyak mulut2 yang ternafkahi???udahlah, mending PLAYBOY membenahi sirkulasi penjualannya biar anak dibawah umur gak bisa menjamah nih majalah..ini kan NEGARA DEMOKRASI yang penuh dgn keanekaragaman..kalo masih dibatasi juga, apa kabar dengan HAM ya?!?!?!??adi, 27/04/06 04:03 PM:
kl menurut agama saya (yg setau saya juga sama dgn agama Pak Ali Sadikin) org2 yg sesumbar berani masuk neraka itu org yg sombong. padahal, mnrt agama saya lagi, org sombong itu dilarang Tuhan. lha piye .... ?dee, 29/04/06 01:59 PM:
gue sepakat sma arif. knp Playboy dilarang sementara FHM, Maxim, Male Emporium, dll malah ga disweeping sama sekali? jangan** malah FPI ato lembaga** yg lain yg men-sweeping Playboy juga pada baca tu majalah? ato mungkin antara majalah** yg gak dilarang terbit itu ownernya punya beking di lembaga** tsb?idriez, 29/04/06 10:55 PM:
play boy..?aku kira itu adalah simbol majalah porno. Pendirinya saja pernah ngomong bahwa itu majalah punya misi memanjakan gairah seks pria.
tentunya kalo orang pingin nunjuk sesuatu, akan lebih efektif kalo yang ditunjuk itu simbolnya.
kenapa kalo memang isinya "serius", namanya gak mau diubah misalnya menjadi Playmind? or playmaker?
ok? peace..
Damar, 30/04/06 03:54 AM:
Yang namanya pornografi dan judi pasti merusak.Apa jadinya Indonesia jika moral generasi muda rusak oleh hal itu.alasan apapun untuk menghalalkan pornografi dan judi tetap tak bisa diterima.
Ingat semua agama pasti melarang segala bentuk kemaksiatan.Anda semua pasti tau aturan dalam agama anda,karena saya yakin anda2 semua orang yang beragama.
Karena orang yang tidak beragama tidak masuk daftar di Indonesia.
Ingat iblis menyesatkankan manusia melalui berbagai cara.
vindhya, 20/05/06 07:56 AM:
porno itu pasti jelek but bagi orang yang memiliki keimanan yang tinggi maka dia g akan terpengaruh akan hal tersebut
aquew mauw ngasih saran kita sebagai umat islam boleh aza ngingetin but please jangan pake kekerasan yah karena sebenarnya islam g pake kekerasan….
kalo kita berbuat keras untuk mengingatkan hal tersebut maka kita telah menjelekkan citra umat islam di mata dunia
peace
Joe, 31/05/06 08:48 PM:
Input aja buat bosnya playboy indonesia, wong kalo kasih amplop harus dipastiin sampai ke anak buahnya, kalo cuma bosnya yg pegang yah begitulah jadinya didemo ama yg gak tau bosnya dapat amplop.
fajar, 14/06/06 09:54 AM:
Saya tetap mendukung majalah playboy….......Selama isi majalah tersebut tidak menyalah etika kebudayaan indonesia.
Intinya porno atau tidaknya majalah tersebut adalah dari kita sendiri, masih banyak majalah yang lebih porno dari majalah playboy tersebut.
Pernah saya bertanya dalam hati apakah orang-orang yang mendemo sampai berbuat anarkis tersebut orang-orang yang tanpa dosa.
Ingat tempat pelacuran doly di surabaya mengapa tempat tersebut tidak di demo atau dibakar padahal tempat tersebut mungkin adalah tempat pelacuran terbesar se-asia tenggara, sedangkan yang didemo adalah majalah yang isinya tanpa ada gambar 100% bugil.
Kita ini jangan menjadi orang yang munafik, didepan kita bilang tidak tetapi dibelakang kita senang akan hal-hal yang porno.
Kita ini hanyalah orang yang berdosa, tidak ada orang yang tidak berdosa…...Kalau ada yang mengatakan saya tidak orang berdosa adalah munafik…................
OK…...........Hidup Majalah Playboy.
deswanta, 20/09/06 04:35 AM:
Saya sih banyak bingungnya ngelihat polah fpi yang seakan-akan sebagai aparat penegak hukum. Jangan-jangan mereka yang kebelet ngelihat gambar-gambar cewek cantik tapi takut ketahuan sama pimpinanannya. Mungkin…..lho ituuuuuuuu! Maka kompensasinya menyirnakan playboy. Padahal playboy itu indah lho….bisa memberikan gairah bagi yang melihatnya. Bukankah banyak orang mencari pengobatan alternatif hanya karena gairah mereka semakin menurun? Mestinya kita sambut kehadiran play boy dengan penuh riang. Kalau oplahnya banyak ka pajak yang masuk banyak juga, berarti menunjang perekonomian negara. Hanya teknisnya perlu ditata agar hanya orang dewasa dan yang mau saja yang ngelihat keindahannnya. Jangan kurangai hak orang lain untuk mendapat kesenangan. Toh tak ada yang ganggu fpi. Kenapa fpi repot?
Lif, 01/10/06 09:51 PM:
Cerdas sekali! Betul, kebetulan saya pernah baca FHM, walah, isinya, tulisan-tulisannya, jorok sekali. gambar-gambarnya, waduh….bahaya. Lha koq gak diprotes ya? Yang diprotes cuma Playboy, apa karena nama ya?
vicky, 27/10/06 02:51 AM:
Kenapa mesti bingung2 mikirin playboy.masih byk mslh yg lain.kan playboy bikin kita lupain masalah se saat.
hendra, 29/10/06 01:04 AM:
Apa yg ada diotak lelaki normal ketika melihat tubuh wanita cantik dibalut dengan pakaian minim nan sexy, memperlihatkan kemulusan dan lekuk tubuhnya yg aduhai?? tanpa peduli apa isi otak si wanita, kepribadiannya, wawasanya dll, maka semua lelaki normal serempak pasti bilang “asoy..!!” cuma homo saja yg akan diem adem ayem. jadi jika anda mendapat sanjungan dan pujian karena anda tampil sexy percayalah pujian itu hanya kepada tubuh anda bukan kepribadian anda.
seperti kita ketahui semua kontestan miss-miss didunia jika ditanya keinginannya menjadi ratu kecantikan rata-rata akan bilang “ingin merubah keadaan dunia” sudah berapa kali pemilihan ratu sejagat diselenggarakan? sudahkan dunia berubah??? toh perang/pelacuran/narkoba masih saja merajalela… apakah jika dengan berbikini serta merta bisa menuntaskan pelacuran, kemiskinan dan kelaparan dinegara2 miskin? maka jelas majalah porno dan pengumbar sexualitas adalah bentuk tololisasi yg diglobalkan untuk kaum hawa !!!
Laura, 14/11/06 02:57 AM:
gw sama skali ga ngedukung adanya FHM,Playboy, apa keq yg isinya cm cewe2 tolol aja..dengan ga atas namain agama ato moral bangsa,bagi gw majalah2 ky gt teramat sangat menampol harga diri wanita,karena akibatnya laki2 menghargai wanita cm krn badannya n fisiknya also smua yg “gede2”,dan kasian aja istri2 n cewe laen yg “original” disaingin sm gambar n hasil operasian doank, secara gw yakin semua perempuan kl cm dibalut bikini or aga2 bugil n dikit trik kamera pasti hasilnya ky tuch cewe2 jg….ga kalah seksi…. hehehe..
jd tolong buat model FHM ato majalah “cuplis” lainnya itu jgn terlalu pede dulu ama diri lo n bangga diatas ketololan lo,jg buat penerbit n pencipta tu majalah….pliz d jgn dibawa2 kesini masuk ke Indonesia,yaaampun….. FPI pliz stop ur freakness (ga guna n ga jelas!!) , FHM,Playboy,Popular, etc. get lost to another hell!!!!
Yudi, 01/02/07 10:26 AM:
pada ngurus yang ga perlu… kerja yang bener, jangan sok ngatur org laen. muna, teriak teriak protes tapi pada nikmatin. kalo ga suka ga usah baca.. kalo suka ya baca aja, toh beli pake duit duit lo sendiri
oci, 10/02/07 11:25 AM:
gw sih ga ngedukung n ga nolak juga..tergantung gimana kalo kita nyikapin aja..tuh majalah kan mahal…so yang beli juga pasti orang-orang menengah keatas..yang pasti pemikirannya juga pasti high quality…
BTW kalo ada yang tau email editor nya playboy indonesia gw bagi donk…gw butuh buat bahan skripsi gw..thanks bgt…
rendra, 21/02/07 01:09 AM:
saya sih setuju aja klo doli tdk dibuyarkan krn aset negara terbesar dr doli juga kan thank’s to you ilove sex
bona, 07/03/07 01:00 AM:
playboy.. umh… those kind of things… kemunculan playboy itu bersamaan dg akan dirancangnya uu-app, yang dibuat ketika korupsi lagi menggunung gila2an di departemen agama.. jadinya, sekali timpuk, lima kucing menjerit.. anyhoo, tentang kemunculan majalah2 sperti itu, saya sndiri gak gitu suka, cuma.. playboy (indonesian ver.)... anyone read it? saya kira, isinya gak gitu nudis, malah, artikelnya berisi dan bagus2. cukup ‘dalem’. seperti tempo bercoverkan cewek sekseh.. kayanya orang yang niat gila baca playboy (indo ver!!) malah tambah pusing, soalnya artikelnya bikin mikir.. beda ama majalah2 kaya gitu yang lebih dulu ada di sini, pada shallow2 smuah.. cuma modal cewek berdada gede+badan bahenol dan artikel konyol gak guna.. karna ituh, menurut saya… coba baca dulu sebelum protes.. anyhoo, saya stuju kalo playboy dimahalin supaya anak kecil ga bisa baca, harga setingkat National Geographic rasanya cukup. mengenai (pendapat) ‘ketidakselarasan’ (‘budaya’ nudis) dengan budaya ASLI indonesia.. gimana dengan penganten jawa yang nikahnya pake kemben doang? gimana dengan masa depan tarian2 tradisional? apakah budaya ASLI indonesia ini HARUS dihapuskan? lalu gimana dengan budaya istri banyak di kalangan masyarakat sini?
saya bukan orang budaya, tapi saya cinta dengan indonesia dan semua kebudayaan di dalamnya (kecuali budaya korupsi-nepotisme-kolusi).. saya juga beragama yang dominan di Indonesia ini, tapi saya kira, agama yang ada dalam diri saya ini untuk saya sendiri ajah, yang ngejudge bener-salah, hanya bisa Tuhan aja. manusi gak berhak. kalo ada yang bersikap seperti itu, berarti dia sama menempatkan diri di posisi Tuhan, dan bukankah itu… entah, saya tidak berhak mengjudge, hanya berkomentar.. saya terlalu cinta agama dan negara ini untuk menghujatnya.. so, whatever happen, lets stick together to build the best of Indonesia.. mari bersama-sama membangunnya, membenahinya, bukan menghancurkennyah.. and tear it into pieces..
whui, ko saya jadi meracau di sini ya?
eniwei, come judge ME!!! :D
Kresna utama, 10/03/07 01:22 AM:
Majalah Playboy mendingan taubat saja…. dosa para pembaca akan ditanggung redaksi majalah playboy… mau naggu dosa segunduk orang?! sadar mas…
enoer, 19/03/07 08:34 AM:
emang bener kalo’ orang-orang indonesia lagi pada bingung sampe ngurusin hal yang menurutku amat sangat nggak penting, masih banyak yg harus kita lakukan untuk tanah air tercinta ketimbang hanya sekedar ngeributin pornografi,bahkan sebagian besar dari mereka nggak tau apa yang mereka lakukan, kalo play boy dilarang edar knp yg lain bisa? dan lagi mereka hrsnya komplain ke pemerintah yg udah ngijinin playboy edar disini, pihak playboy pasti udah bayar mahal jadi hak mereka untuk jualan majalah disini, lagian dosa jg dosa mereka ngapain kita yg repot, toh kita sendiri bukan orang yg nggak punya dosa…
Akmal Amir, 07/04/07 07:56 PM:
Ayo tingkatkan lagi lebih bagus kalo Sarah Ashari yang menjadi model PLAYBOY Indonasia
Harry, 09/04/07 06:09 AM:
Iya saya setuju dengan pendapat umum yang masuk.
Memang sebaiknya biarkan saja apa adanya, kalo memang sudah diijinkan beredar ya udah. Yang nggak mau ya jangan lihat atau beli.
Kalo memang brand PLAYBOY bikin ribut, ganti nama saja dech, logonya ganti buaya kali.
Berpikirlah dewasa dan global donk.
Jangan picik supaya bisa jadi negara maju, gitu loh.
Sihol, 11/04/07 09:30 PM:
Sy sangat setuju dengan pendapat umum yang masuk. Dampak globalisasi tidak dapat dielakkan. Kewajiban kt membentengi diri dg baik agar ngga ngeres. Jangan hanya melihat sisi negatif saja. Positifnya juga ada, paling tidak membuka peluang kerja, peluang bisnis yang ujung-ujungnya income negara lewat Tax, dll. Yo ora cak
daren shin, 20/04/07 06:38 AM:
gue juga setuju banget tuh kenapa majalah yang lain ga di larang tapi malah playboy.Ada apakah gerangan denan playboy?
HERJUNUT ALI, 27/04/07 06:57 AM:
AKU TIDAK MEMBELA MAJALAH PLAY-BOY AKU MENDUKUNG GUSDUR KARENA GUSDUR PENDIRI NU KARENA ITULAH AKU SETUJU
IPANG, 03/05/07 08:41 AM:
AKU TIDAK SETUJU ATAS TERBITNYA MAJALAH PLAYBOY ,AKU SANGAT SETUJU TERBITNYA MAJALAH ISLAM ,AKU SANGAT MENDUKUNG GUSDUR.
VINO BASTIAN ANDI, 04/05/07 03:13 AM:
SAYA TIDAK AKAN MEMBIARKAN MAJALAH INI TERBIT ATO BEREDAR KEMBALI AKU SETUJU ATAS TERBITNYA MAJALAH ISLAM AKU HARUS MENGHENTIKAN PELANGGAN MEMBELI MAJALAH PLAY-BOY
perahu lor, 04/05/07 11:12 AM:
ALLAH tidak pernah minta untuk disembah, kita sebagai hamba di turunkan di muka bumi & di pisahkan dari Zat yang maha suci untuk suatu ujian, rugilah kita seandainya tidak tahu akan kembali kepadanya dalam keadaan seperti apa soleh atau kafir. PLAYBOY ada atau tidak tidak ada hubungannya dengan tuhan, buat apa kita sibuk menghujatnya. ayo hujat diri sendiri yang selalu merasa benar dan tahu hukum tuhan dan menyalahkan orang lain. jadikan diri sebagai iman bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain sebagai hamba yang merasa terhina karena di pisahkan dari ZAT yang MAHA AGUNG dialah ALLAH SWT yang tahu bakal seperti apa umatnya di dunia. masa bodoh dengan playboy, TUHAN tidak butuh playboy TUHAN hanya mau UMAT nya tahu diri bahwa telah terpisahkan dengan kesucian keabadian yang haqiqi bersama NYA. perkuat iman untuk kembali kepadanya sebagai manusia ISLAM. islam jalan untuk mengenal diri bukan sebagai kedok untuk membakar, merusak, dan menghakimi orang lain….wassalam PERAHU LOR
ARIP, 05/05/07 12:00 PM:
AKU TIDAK SETUJU ATAS TERBITNYA MAJALAH PLAY-BOY AKU MENDUKUNG TERBITNYA MAJALAH ISLAM
AKU SANGAT MENDUKUNG GUSDUR
asri dyah meiyana, 08/05/07 02:06 AM:
aku tidak setuju dg terbitnya majalah playboy karena tidak bermoral dan merusak sumbr daya manusia. lebih baik menerbitkan majalah yang bermanfaat
agung, 25/05/07 01:15 AM:
saya cuma mau tanya, didalam hukum positif ada suatu syarat sah perjanjian yaitu. perjanjian harus tidak boleh melanggar hukum, ketertiban umum, dan kesusilaan. jadi menurut saya pribadi, perjanjian bisnis playboy indonesia adalah tidak sah. namun pertanyaannya, apakah batasan kesusilaan ?? suatu pertanyaan abstrak yang memiliki multi penafsiran. tetapi setidaknya, semua umat manusia didalam hatinya memiliki sebuah standar norma sendiri untuk menentukan batasan kesusilaan (dalam hal ini yaitu unsur yang dapat merangsang birahi setiap pria). dan saya yakin, walaupun orang yang sangat pintar dan ilmiah pun ketika melihat gambar wanita di majalah playboy setidaknya terbersit didalam pikiran mereka suatu hasrat birahi (walaupun kemudian pikiran itu akan segera diatasi oleh sisi rasional dan ilmiah mereka). so, apakah itu bukan melanggar kesusilaan namanya ??
frans, 03/06/07 04:38 PM:
gw sih setuju2 aja soalnya gw suka ama yang namanya seni,tergantung kepada individu masing2menilainya.
devi, 12/06/07 07:14 AM:
aku setuju kalau majalah play boy di bubarkan karena dapat meracuni umat islam di indonesia dan negara nagara lain. untuk terjun kedunia maksiat.
74m5, 15/06/07 02:00 PM:
saya setuju dengan majalah playboy, apapun isi majalah playboy merusak atau bagaimana yang jelas itu semua tergantung individu masing2 orang.
win, 16/06/07 10:51 PM:
suah saatnya kita betobat,kyknya org mkn pintar koq mkn guoblok ya..kyk anak kecil kgk tau mn yg bener mn yg saleh..je2.kudu peduli dgn bangsa dan org lain krn kita sbg khalifahd di muka bumi klo kgk peduli itu apatis,mending pindah keatas gunung krakatau,bawa tenda.fpi peduli ummat malah dpt cemooh,gmn sich??,klo kgk mau turun ke jln ya bantu doalah minimun jgn mlh mencemooh..peduli donkkk
ghino, 29/06/07 06:28 AM:
kayaknya masih wajar aja, yang bilang itu tidak bae orang tidak normal
Zulkarnaen Siregar, 27/08/07 09:23 AM:
Masalah ini sebenarnya punya solusi yang sangat simpel. Jika Anda berpikir bahwa benda itu (majalah Palyboy, FHM, dll) itu tidak bermanfaat bagi diri Anda atau keluarga Anda, untuk apa dibeli? Toh kalau banyak orang yang tidak membelinya, perusahaan pembuatnya akan bangkrut sendiri kan? Gitu aja koq repot seh?
ony heker, 31/10/07 10:59 AM:
majalah playboy???? oke..oke saja koq… asalkan disesuaikan dengan situasi yang ada…. taukan di Indonesia ini….he he he he…..
godo, 19/04/08 01:45 PM:
mengenai Majalah Playboy balekno wae menyang negoro asale. Special for new pebisnis Playboy” golek duit coro liane wae masih terbuka lebar contoh bakul koran/majalah bekas kalu ndak salah Rp.1000,-/Kg.” itu contoh gampangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
oki apriandi, 29/04/08 08:18 PM:
play boy???!!??sebenarnya kehadiran play boy di indonesia telah membuat perubahan kehidupan sosial yang signifikan, contoh yang dulu dianggap tabu kini dianggap kren, dulu jangankan pake’maaf’ bra di tempat rame menjemurnya aja pasti disembunyiin tapi sekarang obral aurat telah ada dimana-mana.sori yo lihat paha orang lebih mudah dari paha ayam,protes! ya udah.jadi ibarat perkembangan manusia, masyarakat kita berada dalam masa puberitas yang butuh referensi yang benar serta bimbingan yang betul agar menjadikan indonesia benar-benar indonesia,merdeka