Tips Menjawab Promosi Telpon
Saya barusan ditelpon seseorang ke ponsel. Lagi-lagi, ini berhubungan dengan susu, tapi bukan susu formula.
“Selamat siang, bisa dengan ibu Yani?” kata wanita itu memulai pembicaraan.
Ia mencari istri saya tentunya.
“Maaf ini suaminya, ada apa bu?” jawab saya.
“Begini, saya dari susu Prenagen, kami ingin menanyakan bagaimana kabar kehamilan istri Anda?”
Kok dia tahu kami beli Prenagen? Prenagen adalah produk susu instan yang ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui. Saya penasaran.
“Maaf Anda tahu nomor telpon saya dari mana?”
“Em… kami dari xxx xxx xxx kami Prenagen xxx xxxx xxx. Apakah istri Bapak masih minum Prenagen pak?” Lanjut wanita itu. xxx adalah kata-kata yang kurang jelas saya dengar.
Karena ingin tahu, saya tanya lagi, “Maaf kurang jelas bu, Anda tahu saya dari mana?”
“Kami dari xxx xxx xxx kami Prenagen xxx xxxx xxx. Apakah istri Anda sehat saja kehamilannya pak?” lanjut wanita itu, tetap dengan intonasi kurang jelas dan cepat.
Karena kesal, disamping merasa kurang dihargai dan menghabiskan waktu, akhirnya saya bilang, “Maaf, saya malas menjawabnya mbak. Makasih”
Klik. Telepon saya tutup.

Guntar, 07/08/06 03:50 PM:
Prenagen: “Selamat Siang, bisa dengan nyonya Guntar? Saya dari susu Prenagen, kami ingin menanyakan bagaimana kabar kehamilan istri Anda?”
Guntar: “Ha? Gimana, mbak?”
Prenagen: “Apakah istri Bapak masih minum Prenagen pak?”
Guntar: “Mbak, sampean sok teu deh! Saya punya istri aja belum. Dan skr sampean malah menuduh saya berperan dlm kehamilan seseorang ?!!?”
Brak! (mbanting telepon dg kesal) v(^_^)v
risiyanto, 07/08/06 05:00 PM:
Haha, mirip. Cuman ini lewat telepon di kantor
marketing: Halo, ini pak Risiyanto bagian IT?
Saya: Iya?
Marketing: Di tempat anda menggunakan isp apa pak? bandwidthnya berapa?
Saya: Ha? Kenapa anda tanya itu? (Nggak ada basa basinya deh, coba ada kata “kalau boleh tahu”)
Marketing: Kami dari pt blablabla, sudah mempunyai client blablabla dan berpengalaman blablabla
Saya: (dalam hati: SWGTL) Terus apa untungnya bagi saya berbagi informasi itu pada anda?
Marketing: Kami menawarkan konektivitas yang lebih baik karena blablabla dan blablabla. Jadi anda menggunakan ISP apa?
Saya: Mbak, apa untungnya bagi saya berbagi informasi itu pada anda? (dengan nada tinggi)
Marketing: .... Kami menawarkan …..
Saya: Haesh! sudah ya?
Marketing: Iya pak terima kasih.
Imponk, 08/08/06 04:54 AM:
Kenapa gak dilanjutkan saja. Biar ia kehabisan pulsa :D Hehe.. Bukan apa-apa, maksudnya mengerjai balik. Padahal, dari awal sudah tidak minat dengan tawarannya.
yanti, 08/08/06 08:04 AM:
Bank: Selamat siang Pak XYZ.. kami dari Bank ABC menawarkan pinjaman multiguna dengan bunga rendah. Limitnya sampai dengan 100 juta rupiah lho Pak..
Teman saya: Itu harus dikembalikan Mbak?
Bank: Oh iya Pak, namanya juga pinjaman. Tapi kami memberikan fasilitas bunga rendah.. blablabla..
Teman saya: Oh kalo harus dikembalikan, saya nggak minat Mbak.. tutup telepon
VenZ, 27/01/09 12:51 PM:
wew… kadang2 sy suka heran ama mereka2 yg ketus terhadap telepon-telepon dari org yg menawarkan jasa atau suatu produk. Mereka kan hanya berusaha mencari uang dan melakukan pekerjaan mereka. mengapa anda tidak membayangkan kalau anda yg berada di pihak mereka, toh kalau pun mereka bisa memilih, mereka tidak mau bekerja seperti itu. Kalau anda merasa terganggu, bukan kah lebih gampang kalau anda langsung katakan sedang sibuk dan langsung mematikan telepon, daripada anda menjawab dengan cara mengerjai mereka yang akhirnya lebih banyak menyita waktu anda padahal anda sendiri memang lagi sibuk?