Pejabat Publik
Ada satu masalah sosial yang terakhir kali saya rasa sangat mengganggu saya. Kenapa setiap pemegang jabatan publik selalu bingung bila ditanya tanggungjawabnya?
Contohnya begini, “Jangan salahkan gubernur aja dong. Banjir ini juga tanggungjawab masyarakat. Sudah dilarang tinggal di bantaran kali Ciliwung tapi masih saja!”
Contohnya lagi begini, “Jangan salahkan menteri perhubungan saja. Masalah transportasi ini juga masalah kita bersama. Kalau kita semua taat, tentu tidak terjadi kecelakaan yang banyak itu.”
Atau, “Kemiskinan ini tanggungjawab kita bersama. Mari kita mulai menolong orang terdekat kita.”
Dan lain sebagainya. Pasti Anda paham apa yang yang saya maksud dengan omongan-omongan tadi.
Oh ya, biarpun kutipan tidak menunjukkan sumber asli, melainkan rekaan saya belaka. Tetapi rekaan itu mengutip kejadian-kejadian yang saya baca dan lihat di media massa. Jadi, bisa dikatakan benar.
Nah, kembali ke pokok kita tadi: 1) Apakah pejabat publik tidak paham tanggungjawabnya? 2) Apakah sebenarnya pejabat publik itu tahu, tetapi mereka mereka memang tidak bertanggungjawab, jadinya bilang seperti itu? 3) Ataukah memang tidak ada tuntutan untuk bertanggungjawab bagi setiap pejabat publik?

— beta · 15/02/07 08:43 AM · #
Itu namanya sensitivitas sosial ya mas? Perlu ilmu khusus untuk bisa mengidentifikasi, seleksi dan memecahkan permasalahan di sektor publik.
Dalam hal ini, Sudarsono berpendapat dalam bukunya Krisis di Mata Para Presiden (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0703/21/teropong/resensi_buku.htm) bahwa permasalahan di sektor publik itu bak gunung es. Yang muncul di permukaan hanya bagian kecilnya. Itu dinamakan gejala. Lalu di bawahnya ada pola-pola fenomena. Dan di dasarnya ada penyebab fundamental suatu masalah. Pemimpin yang baik, dapat melihat gambaran ini. Sehingga ia dapat mengambil langkah terbaik dalam penyelesaian masalah publik.
Mengatasi masalah yang berupa gejala, maka ia tidak akan dapat menyelesaikan fenomena dasar tersebut. Minimal, masalah terpecahkan sementara tanpa adanya kepuasan publik atas penanganan tsb.
Mengatasi masalah yang berupa pola, biasanya mampu menghentikan keterulangan masalah. Tapi apakah masalah benar2 sudah dibereskan tuntas?
Menyelesaikan masalah dari bawah. Itu baru sebuah pemecahan brilyan.
Pendekatan lain dalam pemecahan masalah sektor publik adalah teori daya ungkit. Pemimpin harus dapat memecahkan masalah yang memiliki daya ungkit paling besar. Biasanya orang2 menggampangkan dengan jawaban: sektor ekonomi.