Negara para Praja

Ada sebuah negara di dalam negara Indonesia. Namanya, Negara para Praja. Namun, dalam diplomasi ke pihak luar, mereka menyebut diri IPDN, Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Dulu namanya STPDN, Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri.

Negeri inilah tempat digemblengnya para calon pamong praja. Orang-orang yang konon akan memimpin masyarakat Indonesia di seantero Nusantara. Orang-orang pilihan, diangkut dari seluruh tanah yang dijanjikan, dijamin cita-cita dan masa depannya, entah menjadi camat atau lurah, atau pegawai negeri sipil umumnya.

Sayang, mereka bukan Nabi atau Orang Suci. Meski dijanjikan Surga oleh Tuhan, Nabi tetap mengabdikan hidupnya menolong manusia untuk berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Tapi mereka adalah praja, calon camat dan lurah. Diijanjikanlah pangkat dan terlenalah mereka. Takdir menjadi raja kecil, maka belajarlah mereka berulah menjadi raja. Raja kecil yang lalim dan murka.

Empat tahun lalu kita dengar beritanya. Kita pun lihat rekamannya. Demi senioritas, siswa baru digilir-hantam dadanya. Jiwa remuk redam, nurani langsung padam, budi pekerti sirna dan berganti dendam. Sepuluh, entah berapa puluh lagi, senior lelaki, senior perempuan, bergilir menghajar dengan tangan, tinju, atau tendangan kaki.

Ihwal kejadian yang memalukan empat tahun lalu itu, akhirnya para pemilik negeri tersebut pilih ganti nama. Keputusan yang jitu oleh para penentu relasi publik negara ini. Buktinya, empat tahun berlalu tanpa kejadian apa-apa terdengar dari negara ini. Kejadian menggembirakan ataupun memalukan, bahkan mungkin kita jadi lupa ada negara ini.

Beberapa hari yang lalu, terdengar berita duka dari negara ini. Seorang Praja Nindya, demikian siswa sekolah di negara ini dipanggil, siswa tahun pertama bernama Cliff Muntu, tewas mengenaskan. Lima temannya (satu orang katanya tidak terbukti) memukulinya hingga demikian. (Update: Tersangka berkembang menjadi sepuluh orang)

Entah ini tragis apa hebat, berita ini dapat kita dengar karena seorang dosen membocorkan ke media massa. Dosen yang empat tahun lalu juga berbicara kepada media massa ini, seorang guru yang ingin sekolah tempatnya mengajar berubah. Dalam rekaman kemarin (entah di stasiun apa, lupa saya), sang dosen diusir oleh dosen yang lebih senior, kelasnya dibubarkan. Sang dosen senior yang tidak disebutkan namanya berkata bahwa sistem inilah STPDN atau IPDN. Tidak ada orang yang berhak mengubahnya. Inilah sistem yang berhasil mendidik calon pamong praja negeri ini.

Tidak ingin berubah, itu kunci kita bila ingin memasuki Negara para Praja ini.

Apakah ini neraka? Saya rasa bukan. Inilah suatu tempat di mana kebodohan merajalela. Ah, saya rasa bodoh juga tidak, siswa-siswa di Negara para Praja adalah pilihan dari masing-masing daerahnya. Yang mungkin tepat, inilah tempat dimana nurani hilang. Tempat kebobrokan bersemi. Tempat berjamurnya angkara murka.

Yang kita heran, kenapa angkara murka ini tidak berubah, bahkan seorang ibu dari siswa yang dirumahsakitkan bilang, “Mohon bapak jangan siarkan anak saya. Biarlah ia remuk badannya sekarang, nanti juga sembuh. Yang penting sekolahnya lancar dan lulus menjadi pejabat”

Takdir menjadi pejabat adalah kunci kebobrokan dan awal mula angkara murka. Takdir menjadi raja kecil. Takdir yang menciptakan monster berjuluk senior. Monster yang menghilangkan sebagian besar nurani para praja ketika di hari pertama mereka menghadiahkan bogem, tinju, sodokan, dan tendangan di tempat-tempat vital di sekujur badan meraka. Pesta besar para senior untuk membalas dendam dan menciptakan hilangnya nurani dan kebaikan dari sekolah ini.

Hemat saya, bubarkan saja IPDN. Era otonomi sudah ada. Ketua RT saja dipilih langsung. Tidak ada gunanya menghabiskan dana milyaran untuk menghadiahkan janji surga atau kerajaan kecil bagi orang-orang kejam seperti itu. Belajarlah berkompetisi wahai siswa IPDN atau calon pamong praja lainnya. Bukan menghajar jiwa-jiwa muda yang seharusnya kalian didik.

Catatan: sebenarnya ada banyak kejadian memalukan tentang IPDN kalau kita menelusuri berita dengan lebih teliti. Ada pengunduran diri seorang praja, tindakan amoral, minum racun, 9 praja dipecat, dan banyak penganiayaan. Entah faktor apa kejadian terakhir menjadi lebih heboh.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

posted 06/04/07 03:07 PM.

Comments

  1. aroengbinang · 07/04/07 05:27 AM · #

    tragis, mengharapkan munculnya pemimpin rakyat yg bijak dari sekolah yg mengajarkan kebengisan pada juniornya yg lemah; cuci tangan pengelola institusinya sungguh menyedihkan.

  2. Koen · 07/04/07 11:21 AM · #

    Tidak ada korban di IPDN. Mereka hanya calon pelaku kekerasan lain, yang kebetulan jatuh sebelum jadi besar dan sangar juga. Mereka dengan sadar masuk ke sistem. Usul dari sekian belas tahun lalu mestinya ditimbang ulang: bubarkan APDN, STPDN, IPDN. Ganti nama, buat apa? Hentikan ketololan !!!

  3. Hedi · 07/04/07 12:10 PM · #

    Sistem hancur, malangnya manusia yang berada dan menjalankan sistem itu memperburuknya. Siswa lainnya tawuran, main narkoba, bikin video porno dan sebagainya. Yang ini lebih mengerikan buat saya (setelah nonton rekaman di Metro TV).

    Sekolah harusnya mengajarkan sebuah kebaikan dan kebajikan, tapi ini justru melahirkan kebengisan. Ini yang bisa membuat saya sedih dan nelongso.

  4. Rachmat saddono, sstp · 08/04/07 10:44 AM · #

    Pemimpin sipil harus melalui pembentukan ESQ
    pola pendidikan di IPDN sudah mengarah kesana hanya anda saja yang melihat dari satu sisi.

    Walaupun selama pendidikan keras tapi alumni STPDN selalu memberikan yang terbaik buat rakyatnya.

  5. Pemburu IPDN · 09/04/07 10:33 AM · #

    Mau dibilang apa ama IPDN..memang pukima juga…banyak contoh alumni IPDN ini memalakin, korupsi dan menganiaya masyarakatnya….

    apa perlu dibunuh aja pemimpin bejat dari IPDN ini!!!!!

  6. alan · 09/04/07 08:38 PM · #

    jangan cuma liat masalah dari kulitnya saja, banyak keuntungan dari IPDN, kenapa yang dilihat cuma yang jelek saja. kita sebenarnya harus bisa menempatkan diri sebagai orang yang bijak dalam melihat masalah, jangan cuma bisa caci maki saja. kalau masih penasaran dengan IPDN datang ke kampusnya, lihat kehiduoan para prajanya. jangan mau terprovokasi oleh media.

  7. Niko · 10/04/07 06:19 PM · #

    Itu yang ngaku senior2nya IPDN, mau ga keluarganya gua Bantai sampe tidak ada yg tersisa secuilpun, mau bayi kek, mau ga aku injak sampe mencret darah

  8. Niko · 10/04/07 06:22 PM · #

    Buat senior IPDN, jangan hanya beraninya di kandang sendiri dong. Kalo berani dan punya nyali gede, coba dong buktiin kehebatan di jalanan. Paling loo di sate rame2

  9. Moh Arif Widarto · 12/04/07 11:22 AM · #

    Di era otonomi saat ini sudah tidak pantas kita punya wadah pendidikan bagi calon pegawai pemda yang dididik dengan aroma Jakarta. Daerah punya kekhususan masing-masing yang tidak bisa didapatkan muatannya di sebuah sekolah terpusat yang bermenu Jakarta.

  10. Herry · 12/04/07 03:15 PM · #

    Buat apa IPDN dibubarin??? mereka calon sipir-sipir terbaik Indonesia….

  11. aga · 13/04/07 10:13 AM · #

    gak heran ngeliat IPDN spt itu, karena banyak pejabat yang sekarang berkuasa jadi kejam, dan korup, mereka bisanya cuman menggendutkan perut, pamong praja artinya apa sih? koq spt kerajaan saja? emang Indonesia negara kerajaan barusan kemaren gue lihat satpol pamong praja dengan kesar dan kejam menggusur pedagang kaki lima dan rakyat kecil atas nama kebersiha dan keindahan…., ini baru ‘anak buahnya’ yang cecere….satpol pamong praja ‘diadu’ ama sesama rakyat kecil sehingga timbul konflik horisontal, hapuskan saja istilah pamong praja itu bikin ngeri aja…, buat siswa yg diwawancarai JK ketika ditanya apa ada kekerasan dan si siswa memulai dengan kalimat ‘Alhmadulillah, tidak ada kekerasan”, semoga saja kebohongan anda di laknat dan menjadi azab!
    buat mendagri, mungkin anda sakit itu karena sdg di azab!

  12. titik · 13/04/07 04:19 PM · #

    tendang saja rektornya!!!!!!!!
    biar ramai
    biar mengaduh sanpai gaduh…
    kLo perlu kita adakan kompetisi “Adu Tendang”
    Rektornyasebagaai kelinci percobaan
    OK?!!!!!
    _

  13. Sjukri Labalado · 14/04/07 08:44 PM · #

    Apa membunuh tikus dilumbung padi harus membakar lumbungnya ? tentu tdk. Kita harus bijak melihat persoalan IPDN, kami semua alumni juga tdk setuju adanya kekerasan dan kekasaran seperti itu di IPDN tapi dibutuhkan ketegasan dan ketaatan terhadap peraturan yang termuat dalam PERDUPRA (Peraturan Kehidupan Praja), Pola pengasuhan harus direvolusi termasuk aknum2nya diganti, pengajar yang KKN juga sdh ada dan harus disingkirkan dari IPDN, Namun kita juga perlu melihat berapa banyak kader Depdagri yang telah dihasilkan IPDN tsb yang mempunyai karir dan prestasi dibid kerjanya masing2, memang tidak semua 100% baik tp lembaga pendidikan mana yang mencetak kadernya 100% baik ? termasuk AKMIL dan AKPOL juga ada yang kurang berhasil dilapangan tp samalah dgn IPDN banyak yang lebih berhasil hal ini telah dibuktikan oleh penelitian dari ADB. Menurut hemat kami ada beberapa saran kongkrit untuk membenahi IPDN antara lain :
    1. 1. Kami meminta kepada Bapak Mendagri ad Interim untuk. kiranya dalam pembentukan tim evaluasi dan perbaikan sistem pendidikan (Pengajaran, Pelatihan dan Pengasuhan) di IPDN melibatkan Furna Praja dan Senat Guru Besar IPDN.
    2. Kami Alumni / PurnaP raja STPDN/IPDN Se-Sulawesi Tengah mengharapkan kepada Bapak Mendagri ad interim sebagai orang tua kami, untuk melakukan perbaikan pembinaan mulai dari proses perekrutan hingga proses akhir pendidikan di IPDN dengan tidak melakukan praktek KKN.
    3. Kami mengharapkan kiranya Bapak Mendagri dapat menindak tegas oknum pejabat/pegawai negeri sipil yang melakukan penyimpangan terhadap praktek KKN baik di Pusat maupun di Daerah dalam proses pengrekrutan Calon Praja hingga akhir pendidikan di IPDN.
    4. Kami mengharapkan kepada Mendagri ad interim (orang tua kami), agar dalam penerimaan calon praja setiap tahunnya disesuaikan dengan daya tampung (sarana dan prasarana) serta jumlah pengasuh dan tenaga pengajar yang berimbang di kampus IPDN.
    5. Kami meminta kepada Mendagri agar dalam pengangkatan Rektor IPDN harus mereka yang memiliki kualitas dan kapabilitas yang baik serta mengetahui kondisi kehidupan praja.
    6. Kami mengharapkan kepada Mendagri kiranya dapat merekrut Pengasuh IPDN yang berasal dari Alumni Sekolah Pamong (APDN/STPDN) didaerah yang memiliki kemampuan dan memenuhi syarat kompetensi, dengan batasan waktu untuk
    mengasuh paling lama 2 (dua) tahun.
    7. Kami ingin menyampaikan kepada Bapak Mendagri, batrwa sistem pendidikan yang ada di IPDN TIDAK bertentangan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 29 ayat I (satu).

  14. tenri sari musdhalifah m, s.stp · 22/04/07 12:45 AM · #

    asssalamu alaikum wr.wb
    bhineka nara eka bhakti
    melihat pemberitaan media yang memblow up tentang IPDN , membuat kami para purna praja STPDN/IPDN merasa sangat bersyukur sebab ternyata kami sangat dicintai oleh bangsa indonesia.kejadian yang terjadi di STPDN/IPDN ini membuktikan bahwa “praja juga manusia”. bukannya saya membenarkan kesalahan yang telah terjadi tapi demi rasa kecintaan kita terhadap STPDN/IPDN ini sehingga marilah kita sama2 mendinginkan hati dan jiwa menegok kedepan apakah langkah terbaik yang dapat kita lakukan.menilik dari pemberitaan dan tanggapan saudara2ku sebangsa dan setanah air,seharusnya kita tidak boleh saling menyalahkan atau menuduh yang bukan2 terhadap kesalahan yang terjadi tersebut.alangkah lebih arif kiranya jika kita dapat memecahkan pertanyaan daripada menghancurkan penanyanya.saran yang telah diberikan oleh saudaraku purna praja sjukri labalado adalah memang saran terbaik yang patut dipertimbangkan.kiranya ini semua kembali kepada pemerintah sendiri apakah telah mampu untuk menyelesaikan masalah IPDN ini.hal inilah yang membuktikan kemampuan bangsa ini sampai dimana kita mampu menghadapi masalah.bila dengan membubarkan IPDN adalah jalan terbaik yang akan diambil untuk menyelasikan masalah, saya rasa kita semua sependapat kalau langkah itu hanyalah langkah untuk cuci tangan belaka.takkan ada penyelesaian yang didapat.bukankah kita tak mampu untuk mengatur hak asasi manusia untuk bertindak dan berperilaku?semuanya kembali pada manusianya sendiri,human error. tak dapat dipungkiri. sistem yang ada didalam STPDN/IPDN ini semuanya telah baik.PERDUPPRA yang merupakan pedoman dunia praja sudah disusun sedemikian rupa dengan melibatkan semua pihak yang dinilai berkompeten sehingga menghasilkan suatu rancangan menghasilkan kader2 bangsa yang dinilai dapat menjawab kebutuhan dari pemimpin bangsa ini.namun sekali lagi apabila terjadi human error mungkin kita akan kembali mengeneralisir keadaan bahwa ternyata semua praja STPDN/IPDN begitu, padahal itukan hanya oknum yang ada didalamnya.sehingga ada dosen senior yang mengatakan bahwa sistem di STPDN /IPDN telah benar,saya tidak menyalahkan apa yg telah dikemukakan sebab itulah tujuan yang ada diSTPDN/IPDN yaitu membentuk kader bangsa yang dapat mengayomi dan berbhakti bagi bangsa dan negara. semua hujatan dan pemberitaan yang ada ini kami dari Forum Alumni Purna Pra SULSEL menganggap bahwa inilah bentuk kepedulian masyarakat indonesia dalam keinginannnya memiliki pemimpin yang arif dan bijaksana.kami juga telah melakukan pengeksposan berita yang positif tentang STPDN/IPDN lewat talkshow dengan menghadirkan Walikota dan beberapa bupati yang ada diSULSEL, sebab merekalah user yang merasakan langsung manfaat dari adanya STPDN/IPDN ini.jikapun ada user yang merasa tidak puas dengan kinerja purna STPDN/IPDN,kita tak boleh dengan serta merta mengasumsikan semuanya seperti itu.mungkin ada faktor intern atau ekstern dari pernyataannya tersebut.skali lagi ‘praja juga manusia’ kami bukanlah dewa seperti yangdikatakan penulis, kami hanyalah sekumpulan anak bangsa yang berasal dari lain daerah disatukan perasaan hati dan jiwa kami dalam suatu wadah STPDN/IPDN untuk mencapai cita2 kami sebagi ABDI PRAJA DHARMA SATYA NAGARA BHAKTI.
    skali lagi terima kasih kepada saudara2ku sebangsa dan setanah air atas perhatian dan partisipasinya menuju pembentukan calon pemimpin bangsa yang lebih baik.
    wassalam

  15. imut · 14/05/07 11:23 PM · #

    apa pun kata – kata mengenai IPDN
    bagi kami kata – kata anda itu adalah ejekan
    anak – anak SD yang berbadan besar

    ingat kata2 anda adalah doa anda juga
    jadi anda mau ngomong sampai
    air mata darah pun IPDN gak akan di bubarin
    kacian de lu orang2 gak bermental
    aku cuma kasian liatin komentar2
    kalian yg gak jelas dan hanya menambah
    dosa bagi anda

    kacian de lu

  16. cha2 · 18/05/07 01:19 PM · #

    IPDN… GAK BANGET DECH…. !!
    buat para senior IPDN, gak usah pada sok jagoan gitu d..
    hari gini masih mikirin bales dendam.. senioritas…
    mending ke laut aje !!!

  17. Hidup Purbalingga !!! · 28/05/07 05:15 PM · #

    Ada yang pro, ada yang kontra…ada yang menangguk untung, ada yang menanggung rugi. Kalau dibubarkan tentu ada yang merasa rugi doong.

    Tidak ada keputusan yang bisa menyenangkan semua orang. Demikian juga keputusan untuk membubarkan IPDN, sebuah organ tubuh yang sudah kadung mengidap kanker parah sehingga harus diamputasi agar tidak melebar ke institusi lain. Apa yang dipelajari oleh para siswa IPDN tidak memerlukan lingkungan khusus, cukup kampus biasa seperti kampus-kampus universitas lain…jadi cukup dijadikan fakultas dari sebuah kampus semisal UGM atau UI. Lulusannya juga tidak memerlukan kecerdasan lebih, sehingga anggaran bisa dialihkan untuk membangun puskesmas, pengadaan buku-buku teks, pengentasan kemiskinan, dan hal lain yang lebih berguna. Diperlukan kepala dingin, jiwa besar, kepekaan terhadap rakyat kecil yang lebih memerlukan anggaran tersebut.

    Ditingkat bawah, diperlukan pendidikan moral dan pemahaman bahwa yang diperlukan oleh sekolah adalah otak yang cerdas dan iman yang kuat, memiliki tradisi prihatin, menyatu dengan rakyat kecil.

  18. anggrekbulan · 05/06/07 08:42 PM · #

    tidak akan ada pelaut ulung dari ombak yang tenang!

  19. MP. WAYDHEE · 24/07/07 02:15 PM · #

    adoh, susah juga kalo pengen semua bener. gw sech taunya yg bener cuman tuhan doangk tuh. gw yg satu angkatan, senasib, sepenanggungan ama cliff aja gk poseng.

  20. joe · 30/08/07 12:13 PM · #

    Yang penting temen aku ga mati dan masih bisa hidup sampe sekarang, yang pasti anak-anak IPDN cepet berubah aja lah. masih banyak pekerjaan rumah yang kita milikki untuk negara MERDEKA!!!!!!

  21. PACE · 30/08/07 12:27 PM · #

    IPDN tu gak seperti yang kalian kira saya pernah berkunjung kok ksana anak2nya pada baik2 smua gak ada terlintas kepikiran gw kalo terjadi kekerasan di IPDN, jadi mnurut gw smua itu cuma kesalahan sistem yang ada di IPDN jd kita gak bisa mengeneralisir smua prajanya donk,,

  22. gajah mada · 21/10/07 06:56 PM · #

    IPDN bubarin aja
    dananya pakai buat pendidikan anak2 yang ada di jalanan
    IPDN
    cuma hambur2in dana negara saja
    cuma menghasilkan penindas rakyat jelata
    bisanya cuma main gusur
    bongkar2
    kalosuka bongkar2
    mending jadi kuli saja

  23. kevin van alken · 08/04/08 03:06 AM · #

    Aku punya usul…
    Gimana kalau ada volunteer yang merekap nama-nama koruptor, Pemimpin yang bermuka dua, yang bermasalah dan sebagainya… (terutama yang mencuat dalam 10 tahun belakangan ini)
    Ditambah dengan lulusan / alumni perguruan tinggi mana asalnya.
    Hasil Rekapan tersebut kita bandingkan jumlahnya antara alumni APDN/STPDN/IPDN dengan alumni perguruan tinggi lainnya…
    Lebih banyak alumni manakah ?
    Lebih bobrok alumni manakah ?
    OK Choy.

  24. 4dh1 · 05/05/08 09:52 PM · #

    Assalamualaikum wr.wb
    Bhinneka nara eka bhakti…
    Mas widi yang baik… apa yang anda tulis di atas merupakan suatu persepsi yang timbul dari pemahaman yang dangkal terhadap institusi IPDN. anda mencoba mendeskipsikan institusi terebut hanya berbekal referensi dari media massa yang nota bene mempunyai kewajiban bagaimana suatu berita bisa menarik sehingga bisa meningkatkan oplah atau rating sehingga menguntungkan bagi media tersebut. Apa yang mereka siarkan memang suatu berita yang mengandung kebenaran.. TAPI!!! ulasan mereka dibuat sedemikian rupa supaya menarik dan menjadi perhatian publik.. ironisnya terkadang apa yang mereka ulas bisa pula menjadi opini publik. Anda dan beberapa teman di atas saya katakan sudah terjangkit Opini tersebut!
    Saya cukup bangga dengan kakak/adik2 yang telah mencoba mengcounter dan mencoba memberika opini positif terhadap almamaternya.. namun saya pesankan kepada semua alumni, senior dan junior.. mari kita buktikan bahwa kita tidak seperti yang mereka kira, kita adalah kader bangsa bukan preman pasar… kita tidak usah banyak bicara, rekan kita di daerah telah banyak membuktikan.. itu cukup sebagai pembuktian!
    dan terakhir sebagai informasi kepada masyarakat..
    bahwa alumni STPDN/IPDN saat ini yang tersebar di seluruh Indonesia belum ada yang jadi “PEJABAT”, Sebegian mereka masih menduduki ESELON III dan sebagian besar lagi masih Eselon IV, segelintir saja yang sudah Eselon II, itupun karena prestasi mereka yang gemilang. So.. kalo ada “pejabat perut buncit” yang “nakal” kami pastikan ITU BUKAN ALUMNI STPDN / IPDN.. Karena perut kami tidak ada yang buncit hehehe..
    wassalam..
    PURNA 05

  25. rusmin · 17/05/08 08:52 PM · #

    Yth. mas widi. Mohon mas widi lebih Objektif dalam penilaian terhadap STPDN/IPDN. Coba mas widi mencermati para alumni STPDN/IPDN yang ada didaerah apakah ada yang bermasalah dengan behaviour mereka? dan dilihat kinerja atau performance pelaksanaan tugas mereka? Selain itu coba di lihat bagaimana tingkat kepercayaan user dalam hal ini bupati/walikota didaerah terhadap Alumni STPDN/IPDN didaerah. berikut saya copy pernyataan Walikota Pasuruan terhadap Alumni STPDN?IPDN kepada Detik.com
    10/04/2007 17:19 WIB
    Walikota Pasuruan Memuji Lulusan IPDN
    Irawulan – detikcom
    Surabaya – Pemerintah Kota Pasuruan berani tampil beda menyikapi kekerasan yang terjadi di Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN). Meski praktek kekerasan kerap terjadi di kampus itu, tetapi Walikota Pasuruan Aminnurrokhman tetap memuji kehandalan lulusan IPDN.
    “Tidak semua begitu. Ini terbukti pegawai saya alumni IPDN bisa bekerja dalam semua bidang, karena mereka sudah dibekali disiplin dan mental yang cukup,” tegas Aminnurrokhman kepada detikcom, disela Pencanangan Tahun Penerapan Standar Pelayanan Publik dan Aksi Gelar Pelayanan Publik di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (10/4/2007).
    Alasannya, IPDN masih diperlukan untuk pembentukan SDM ke depan. “Jadi kalau sampai dibekukan hanya karena ada kekurangan, sepatutnya tidak dilakukan,” pintanya.
    Amin menilai jika masih ada kekurangan di tubuh IPDN, mestinya kelemahan itu diperbaiki. “Kekurangan yang ada harus kita identifikasi dulu. Baru kita bisa lakukan langkah-langkah konkretnya,” ujar Amin saat meninjau Stand Pameran Pemkot Pasuruan.
    Pemerintah kota Pasuruan, kata Amin, dengan tangan terbuka menerima PNS lulusan IPDN. Karena menurut dia, lulusan IPDN didaerah siap pakai. “Kita siap menerima,” tandasnya.
    Ketika disinggung budaya kekerasan di tubuh IPDN akan berpengaruh terhadap kinerja PNS lulusan IPDN, ia menampiknya. Dia tidak mempermasalahkan langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menunda penerimaan mahasiswa IPDN yang baru. “Kita tinggal melihat enam langkah yang dilakukan ini efektif atau tidak,” jelas dia. ( gik / asy )

  26. rusmin · 17/05/08 08:58 PM · #

    Yth. mas widi. Mohon mas widi lebih Objektif dalam penilaian terhadap STPDN/IPDN. Coba mas widi mencermati para alumni STPDN/IPDN yang ada didaerah apakah ada yang bermasalah dengan behaviour mereka? dan dilihat kinerja atau performance pelaksanaan tugas mereka? Selain itu coba di lihat bagaimana tingkat kepercayaan user dalam hal ini bupati/walikota didaerah terhadap Alumni STPDN/IPDN didaerah. berikut saya copy pernyataan Walikota Pasuruan terhadap Alumni STPDN?IPDN kepada Detik.com
    10/04/2007 17:19 WIB
    Walikota Pasuruan Memuji Lulusan IPDN
    Irawulan – detikcom
    Surabaya – Pemerintah Kota Pasuruan berani tampil beda menyikapi kekerasan yang terjadi di Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN). Meski praktek kekerasan kerap terjadi di kampus itu, tetapi Walikota Pasuruan Aminnurrokhman tetap memuji kehandalan lulusan IPDN.
    “Tidak semua begitu. Ini terbukti pegawai saya alumni IPDN bisa bekerja dalam semua bidang, karena mereka sudah dibekali disiplin dan mental yang cukup,” tegas Aminnurrokhman kepada detikcom, disela Pencanangan Tahun Penerapan Standar Pelayanan Publik dan Aksi Gelar Pelayanan Publik di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (10/4/2007).
    Alasannya, IPDN masih diperlukan untuk pembentukan SDM ke depan. “Jadi kalau sampai dibekukan hanya karena ada kekurangan, sepatutnya tidak dilakukan,” pintanya.
    Amin menilai jika masih ada kekurangan di tubuh IPDN, mestinya kelemahan itu diperbaiki. “Kekurangan yang ada harus kita identifikasi dulu. Baru kita bisa lakukan langkah-langkah konkretnya,” ujar Amin saat meninjau Stand Pameran Pemkot Pasuruan.
    Pemerintah kota Pasuruan, kata Amin, dengan tangan terbuka menerima PNS lulusan IPDN. Karena menurut dia, lulusan IPDN didaerah siap pakai. “Kita siap menerima,” tandasnya.
    Ketika disinggung budaya kekerasan di tubuh IPDN akan berpengaruh terhadap kinerja PNS lulusan IPDN, ia menampiknya. Dia tidak mempermasalahkan langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menunda penerimaan mahasiswa IPDN yang baru. “Kita tinggal melihat enam langkah yang dilakukan ini efektif atau tidak,” jelas dia. ( gik / asy ).
    From Moehammad Rusmin Noeryadin, SSTP,MM>

  27. ojigila · 18/05/08 02:16 AM · #

    buat niko.
    Otak lu bejat, pasti pikiran jg ngeres. Sekolah di mana sich. Yg jelas pst bkn di ipdn. yaqin deh gw.

  28. ridho hutabarat, SSTP, MSc · 20/05/08 12:42 PM · #

    bhineka nara eka bhakti (berbeda latar belakang suku dan budaya, tetapi satu pengabdian untuk Republik Indonesia).

    selamat tengah malam mas,
    saya sengaja membuka laptop dan mengkoneksikan hot-spot yg ada di hotel tempat saya pelatihan..saya kangen akan almamater saya yang hina dipandang masyarakat.
    kebenaran tidak selalu apa yg dilihat oleh mata, walau saya akui hidup di Ipdn adalah saat-saat dimana saya merasakan kehidupan yang sebenarnya..
    yaitu kalau mau berhasil kita harus disiplin dalam hidup, walau itu sakit..tapi kita harus terus tetap berdiri di kaki sendiri..
    tapi, Puji Tuhan yang Maha Kasih
    sekarang dari sulitnya kehidupan saya telah mendapat buah manis dari nilai tersebut.
    walaupun saat pertama lulus saya dicibir oleh teman sekantor apalagi ibu2 yang tidak berhenti bergosip tentang STPDN, namun mereka mengakui kredibilitas saya sebagai pegawai..
    memang itu bukan patokan, tapi saya merasa di negara ini masih membutuhkan sosok Pamong yang akan mengamong masyrakatnya ke arah yg lebih baik..
    yakinlah suatu saat mas juga akan mengakui bahwa betapa besarnya pengaruh stpdn di negara ini.

  29. egy · 10/09/08 01:02 PM · #

    orang tegas harus di bina yg keras
    ipdn just my life,mau kekerasan kek yg kanu blg buktinya aq msh sehat malah gede bdn gue..
    aq ak takut sm sapa aja,mw dijalan atau dimn asal kan kami benar..para penghujat ipdn lo degar kan comment aq…

  30. yulindra · 18/10/08 12:04 PM · #

    Met siang mas…sori baru bisa gabung..Mas yang menentukan baik buruknya seseorang dlm bekerja dan bertugas bukanlah lembaga pendidikannya..persentasenya sangat kecil dalam mempengaruhi budaya maupun pola pikir kita. Keberhasilan seseorang ditentukan oleh kemauan dari dalam diri kita sendiri. Kalau ternyata masih banyak para alumni APDN,STPDN, IPDN yg berhasil itu adalah merupakan tanggung jawab moral mereka terhadap diri mereka, keluarga, maupun lembaga pendidikan dimana mereka dididik dan dibina. kejadian yg mjd sorotan di STPDN, IPDN, bisa terjadi di kampus manapun bahkan lebih bobrok..
    Saya hanya mau mengatakan kenapa selumbar dimata saudaramu engkau lihat, sedangkan balok dimatamu tidak..
    mari bersama-sama kita memberikan masukan jika kita ingin membenahi lembaga pendidikan ini…
    Terima kasih

  31. sulesana · 18/12/08 10:52 PM · #

    tempat yg tinggi adlh sebuah cita2 bg semua anak bangsa……perlukah diwacanakan lagi ketika bgs ini telah melahirkan dan meninggikan anak2nya.

    kesempatan baik dtg hanya se-x…yg belum dpt sbr & cari kesempatan yg lain…..

    IPDN….t4 yg tinggi dan memberikan kesempatan yg sgt baik…..

    perlukah…..diwacanakan lg…????

  32. rusuh · 25/02/09 08:56 PM · #

    udah lah…kagak usah ngiri sama anak2 stpdn…kite semue uda puny takdir masing2, jalan hidup masing…ikhlasin aje ye om arif widi???

  33. Drs. H. H. tom, M.Si · 21/03/09 02:16 PM · #

    DOSA-DOSA IPDN 2

    Keberadaan Pakultas dan Jurusan (Manajemen dan Politik) di IPDN juga justru menambah buruk institusi. Hampir semua pekerjaan unit-unit, bagian dan bidang diambil alih atau kalo boleh menyebut DIRAMPOK oleh Pakultas. Banyak pegawai menganggur karena pekerjaan tersentralisasi pada Pakultas. Ironisnya, Pakultas tempat menampung para penjahat, buangan daerah, tidak kompeten.
    1. Menurut inpormasi. Pernah kejadian, anggaran praktek lapangan yang berada di bagian lain sebesar Rp. 1 milyar diminta oleh pakultas untuk pelaksanaan kegiatan PPL Muda Praja di Kabupaten Sukabumi. Padahal Bagian yang berwenang tsb katanya sudah ekspos di depan Bupati tinggal dilaksanakan, tapi karena diminta pakultas akhirnya bagian tsb mengalah.
    2. Banyak dosen dan pelatih tidak kebagian jatah mengajar dan melatih karena diambil oleh orang2 pakultas. Bayangkan dalam 1 semester, masing-masing dosen dan pelatih di pakultas mendapat jatah 9 kelas?? Dimungkinkan ini terjadi karena orang2 pakultas tidak laku di luar atau mungkin takut kalah bersaing dengan kolega di unpad, unpas, uninus, unwim dsb (tidak usah menyebut ITB.. terlalu tinggi)!
    3. Dekan tidak pernah berkoordinasi dengan Purek I tapi justru potong kompas! Akibatnya, kurikulum tiap bulan berganti, mata kuliah aneh-aneh.
    4. Penghasilan orang2 pakultas jauh berada di atas orang2 unit2 lain.
    5. Mungkin pakultas overload pekerjaan, tapi coba tengok unit2 lain. Banyak pegawai yang datang hanya bengong… baca koran…. terus pulang. Bayangkan gimana seorang pegawai golongan 2 mau beli susu buat anaknya kalo gajinya kecil Cuma gara2 keberadaan pakultas!?? Kasian. Dholim bener.
    Ini menjadi kewajiban Rektor beserta para PR. Mampu tidak menyelesaikan permasalahan ini??
    Mudah2an jangan seperti Johanes Kaloh!
    Harus diakui…. IPDN pasca meninggalnya Cliff Muntu semakin buruk!!

    Tindakan yang perlu dilakukan :
    1. Hapus keberadaan Pakultas yang justru memperburuk citra IPDN. Tidak ada nilai tambah sama sekali karena justru menurunkan kualitas Praja.
    2. Ganti pejabat2 yang “money oriented” dengan individu2 yang kompeten. Kalau pimpinan mau, masih banyak kok org2 di IPDN yang baik2. Itu saja dulu…. Mampu gak rektor melakukan ini?????

    By toms2@radnet.id

  34. cinta bangsa · 05/05/09 04:20 PM · #

    Mas widi….
    anda bner2 hebat…

    tp IPDN lebih hebat..

  35. Drs. Eko Supriyanto, M.Si. · 19/05/10 10:16 AM · #

    Perbincangan dan perbedabatan tak ada gunanya, manakala tak ada tindakan dan perbuatan demi sebuah kebaikan.

    Buat rekan-rekan purna praja ….. tunjukkan bahwa kita Pamong Praja Muda yang siap emban amanah !!!!

    Insya Allah …. Yang Maha Kuasa memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua !!!

    Drs. Eko Supriyanto, M.Si. ( Purna Praja 04 Kabupaten Brebes – Jawa Tengah )

Leave your comment