Tragedi Konser Rock Bandung

Ikut berduka atas tragedi di Bandung beberapa waktu lalu. Seperti kita tahu, kejadian ini merenggut 10 korban meninggal dunia. Berikut tulisan yang mengupas tragedi konser Rock di Bandung itu.

via Budi Raharjo

Comments posted 19/02/08 12:26 AM

Lomba Sarana Kampanye Peduli Sampah

Lomba Sarana Kampanye Peduli Sampah sbb:
(http://berkahsampah.blogspot.com)

A. LOMBA SLOGAN

Hadiah:

Juara Pertama: Rp. 5.000.000

Juara Kedua: Rp. 4.000.000

Juara Ketiga: Rp. 3.000.000

Juara Harapan: Rp. 500.000 (untuk 5 pemenang)

Dewan Juri:

Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Bintang Nugroho

Persyaratan Lomba Slogan:
1. Terbuka untuk seluruh Warga Negara Indonesia, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya.

2. Menyebutkan identitas diri (nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon).

3. Setiap Karya Slogan harus mengacu kepada tema; yang mengingatkan, menggugah dan mengajak orang untuk peduli akan hidup bersih dan sehat, khususnya membuang/menaruh dan memilah sampah.

4. Karya Slogan harus asli, orisinil, bukan jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan atau disayembarakan. Panitia tidak bertanggung jawab bila ada tuntutan hukum dari pihak lain atas Karya Slogan yang dikirim oleh peserta lomba.

5. Karya Slogan tidak boleh mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).
Panitia akan mendiskualifikasi karya yang mengandung unsur SARA.

6. Karya Slogan menggunakan bahasa Indonesia/bahasa asing (asal dimengerti), mudah diingat, diucapkan dan komunikatif. Panjang slogan (jumlah karakter) tidak dibatasi.

7. Penjelasan/arti/ makna/pesan yang tersirat dalam slogan akan ditanyakan pada waktu audisi.
Peserta dapat mengirimkan Karya Slogan sebanyak-banyaknya (tidak terbatas).

8. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini. Info lebih lanjut kunjungi: www.berkahsampah. blogspot. com

9. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

10. Cara pengiriman Karya Slogan:
. Via pos atau diantar langsung dengan alamat: Gerakan Hidup Bersih dan Sehat, Jl. Kramat VI No. 22 Jakarta 10430. Karya Slogan dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA SLOGAN disudut kiri atas amplop.
. Via email: berkahsampah@ gmail.com
. Via SMS: (021) 30584439

11. Karya Slogan sudah harus diterima paling lambat 31 Maret 2008 pk.16.00 WIB

B. LOMBA BERCERITA DENGAN FOTO

Hadiah:

Juara Pertama: Rp. 5.000.000

Juara Kedua: Rp. 4.000.000

Juara Ketiga: Rp. 3.000.000

Juara Harapan: Rp. 500.000 (untuk 5 pemenang)

Dewan Juri:

Andy F. Noya, Brigitta Isworo dan Eka Budianta

Persyaratan Lomba:

1. Terbuka untuk pelajar dan mahasiswa, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya.

2. Melampirkan identitas diri (nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon/handphone) dan fotokopi Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar.

3. Setiap Karya Lomba harus mengacu kepada tema; yang mengingatkan, menggugah dan mengajak orang untuk peduli akan hidup bersih dan sehat, khususnya membuang/menaruh dan memilah sampah.

4. Karya Lomba terdiri dari 2-4 rangkaian foto ukuran 4R, ditempel di atas kertas A3, diberi judul dan cerita yang tidak melebihi 25 kata.

5. Olah digital hanya diperbolehkan pada proses croping, brightness, contrass & mode color.

6. Karya Lomba harus merupakan karya sendiri dan belum pernah menang dalam lomba foto apapun. Untuk calon pemenang akan dikonfirmasi keaslian karyanya dengan menunjukkan file digital asli atau negative film. Panitia tidak bertanggung jawab bila ada tuntutan hukum dari pihak lain atas karya foto yang dikirimkan.

7. Peserta dapat mengirimkan sebanyak-banyaknya Karya Lomba Bercerita dengan Foto.

8. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini. Info lebih lanjut kunjungi: www.berkahsampah.blogspot.com

9. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

10. Cara pengiriman Karya Lomba Bercerita dengan Foto:
. Via pos atau diantar langsung ke alamat: Gerakan Hidup Bersih dan Sehat, Jl. Kramat VI No. 22 Jakarta 10430. Karya Lomba dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA FOTO disudut kiri atas amplop.

11. Karya Lomba sudah harus diterima paling lambat 31 Maret 2008 pk.16.00 WIB

Comments [2] posted 05/02/08 08:59 AM

Menunggu Kematian Lord Voldemort

Ini parodi cerpennya Seno Gumira Ajidarma, Menunggu Kematian Paman Gober. Juga parodi kehidupan diktator Indonesia

PERHATIAN: Tulisan ini mengandung ringkasan isi cerita. Maaf!

Lord Voldemort adalah tokoh antagonis ciptaan novelis cantik asal Inggris, J.K. Rowling, dalam serial terkenal Harry Potter. Meski usia yang sudah tidak pantas remaja, saya mengikuti seri ini sejak edisi perdananya diterbitkan Gramedia dan kemudian tak sabar mencari edisi PDF via torrent atau situs bajakan lainnya.

Dan, ketika edisi terakhir terjemahan Indonesia baru terbit Minggu kemarin, saya beruntung sudah menamatkan edisi Inggris, lagi-lagi bajakannya sejak akhir bulan lalu. Lord Voldemort telah mati dibunuh oleh Harry Potter! Demikian ceritanya.

Matinya tokoh yang bernama asli Tom Riddle ini memang tidak sendiri. Pertarungannya diikuti oleh puluhan pengikut kejahatannya, dan juga ditonton oleh puluhan musuhnya, pahlawan yang berjuang membasmi kejahatan yang disebarkan olehnya. Dalam pertarungan satu lawan satu yang mendebarkan itulah, kekuatan tongkat sihir paling sakti di dunia sihir, teryata telah musnah. Setelah tujuh roh ciptaan Voldemort bisa dimusnahkah oleh orang-orang baik di dunia sihir, termasuk oleh Dumbledore, Grindelwald (orang jahat sebelum era Voldemort yang menjadi sadar setelah dikalahkan Dumbledore), dan Harry beserta kawan-kawannya, akhirnya kematian Voldemort sudah final. Kejahatan telah dikalahkan. Manusia dunia sihir bisa hidup normal lagi. Harry Potter dan kawan-kawan akhirnya menikah, punya anak, dan kembali bersekolah.

Saya tidak akan berbicara tentang seri Harry Potter yang benar-benar membuat saya kagum itu. Kita tahu rangkaian cerita, plot, dan cara penyajian cerita serial ini memang menakjubkan menakubkan. Seri 1 menuju seri 7 menunjukkan perkembangan yang menarik tentang tata cara storytelling. Seri 1 memakai bahasa sederhana, lugas, kosakata paling mendasar yang bisa dipahami anak usia 7 tahun. Beranjak ke seri berikutnya, penggunaan bahasa semakin rumit, dan seri 7 benar-benar membuat saya harus bolak-balik lihat kamus istilah. Selain itu, konstruksi cerita terbukti menarik. Dunia sihir menjadi terang benderang dengan alur logis. Semua tentang dunia jahat dan dunia baik. Cinta yang bisa mengalahkan segala angkara murka.

Tom Riddle dilahirkan tanpa cinta murni. Ayahnya, manusia biasa yang tampan, disihir agar mencintai ibunya. Ketika sihir hilang, karena ibunya Tom ingin mempunyai cinta sejati, seketika itulah Riddle tua kabur. Tom lahir, dinista oleh keluarga tuanya. Merana dan kabur dari rumah, ibunya meninggal, Tom kecil dipelihara oleh rumah yatim piatu. Hidup menyendiri. Sering diolok-olok oleh teman-teman karena kemmapuannya yang aneh. Tom kecil sudah merasa ia punya keistimewaan dan menikmati penggunaan sihir-sihir yang tidak disadarinya.

Ketika masuk usia sekolah dan diberitahu untuk masuk sekolah sihir Hogwarts, Tom benar-benar mengetahui nasibnya. Ia akan menjadi orang nomor satu dunia sihir. Dengan segala tipu muslihat, mengumpulkan pengikut-pengikut yang ringan tangan untuk meneruskan aksi kejahatannya dengan membunuh dan menyakiti sesama. Tapi aksinya terhenti tanpa ia tahu sebabnya. Voldemort, nama yang merupakan anagram nama aslinya, mati. Dalam sebuah serangan mematikan untuk membunuh calon musuh bebuyutanya yang diketahui lewat ramalan (seperti para tiran lainnya, mereka memuja dunia mistik), musuhnya seorang bayi dalam dekapan ibunya bernama Harry Potter masih tetap hidup, serangannya sendiri mental dan ia tewas.

Tapi kita tahu, seperti cerita Dumbledore—penyihir hebat yang menelusuri jejak kehidupan Tom dengan seksama, ia telah membagli rohnya menjadi tujuh dan menyimpannya dalam benda-benda gaib dan juga warisan moyang para sihir. Tujuh roh ini diyakininya akan menjamin ia bisa hidup abadi di masa mendatang. Tapi setiap rencana jahat, kita tahu pasti tidak akan abadi. Itulah hikmah yang ingin diutarakan Rowling. Untuk cerita lengkapnya lebih baik Anda baca sendiri buku aslinya.

Ternyata, ketika menelusuri lebih jauh, hampir banyak kesamaan para tiran, diktator, dan orang-orang jahat itu. Mereka penyendiri. Terlalu yakin dengan keutamaan dirinya. Melakukan muslihat licik tanpa malu. Dan, menyukai diikuti pengikutnya dan dipuja dirinya paling mulia. Tapi kita tahu Voldemort tidak mempercayai orang lain, dan ia tidak segan membunuh anak buahnya yang melakukan sedikit kesalahan. Meski begitu, para pengikutnya, seperti pengikut para tiran, memuja dengan segala rupa, mendoakan agar tuannya sehat, dan tidak tahu malu mengajak semua orang memafkan tuannya yang sedang sakit.

Satu hal yang penting, para tiran, dengan otak jahat di pikirannya, menganggap apa yang telah mereka rencanakan itu sempurna. Padahal tidak ada kejahatan yang sempurna. Voldemort membuktikannya. Reformasi 1998 membuktikan ia bisa jatuh. Pengikutnya mengira mereka bisa menutup kejahatan mereka selamanya. Pengikutnya mengira kita akan kasihan sehingga memaafkan tuannya. Pengikutnya berharap kita melupakan kejahatan mereka.

Ya, itu yang terjadi saat ini. Dan kita seperti tertipu, apalagi dengan usaha pemimpin saat ini untuk mengharap kita tidak meneruskan polemik (what the hell?! Padahal saya kira ia sudah maju dengan menyuruh penegak hukumnya bernegoisasi dengan para pengikut tiran itu. Apakah ia menjilat ludah sendiri? Kasihan sekali penegak hukumnya!), lalu berharapkah kita dengan kejahatan yang terlihat semkin merajalela. Pemimpin bisa diganti, dan usaha kitalah mengganti dengan pemimpin yang benar, tegas, tidak takut terhadap kejahatan! Dan, pahamilah kebijaksanaan bahwa, naluri kejahatan lebih banyak menghancurkan dirinya. Apakah kebobrokan akan terungkap dengan sendirinya. Apakah kejahatan mereka membunuh mereka sendiri. Atau, mungkin muncul pahlawan yang menghancurkan kejahatan hingga ke ujung dunia.

Kisah Lord Voldemort di Harry Potter, adalah seperti kisah para tiran lainnya. Tapi ada bedanya, tentu saja. Para tiran cenderung tidak tahu malu untuk berbuat pengecut, culas, atau hal-hal rendah lainnya. Lord Voldemort kejam, tapi ia selalu bangga dengan dirinya yang ia rasa sebagai manusia sihir super. Voldemort segan bertindak culas, meski ia kejam sangat kejamnya. Meski setiap penyihir menantikan kejatuhan Voldemort, namun mereka sangsi apakah makhluk kejam ini bisa mati. Kematian para tiran ditunggu oleh setiap manusia yang baik, tentu saja mereka tahu (bahkan tinggal) menunggu waktu matinya saja.

Kejahatan tidak akan abadi. Gusti Allah mboten sare (Bahasa Jawa: Tuhan tidak tidur). Kejahatan akan menemukan akhirnya (meski kejahatan selalu ada dalam usia kehidupan ini).

Untuk penggemar Harry Potter dan cerita Indonesia, selamat membaca cerita!

Comments [7] posted 14/01/08 07:30 AM

Kilas Balik dan Harapan

2007

  • Getir melihat kehidupan sosial di Indonesia, potret paling jelas tentu saja di Jakarta. Tatanan tidak jelas. Administrasi parah. Ekonomi biaya tinggi. Disiplin tidak ada. Hukum kurang jelas. Transportasi makin parah. Fasilitas umum semakin bobrok. Korupsi makin memalukan. Kebanggaan terhadap negeri yang makin luntur. Keserakahan yang makin merajalela. Kalau dirangkum, seandainya disuruh bilang, sepertinya tidak tahan hidup di ibukota, tapi seandainya disuruh memilih tinggal di mana, lebih bingung lagi :-)
  • Duka yang dalam kepada seluruh korban bencana alam, korban kecelakaan transportasi publik, korban banjir, korban kebakaran hutan/pasar/kampung kumuh, korban penggusuran, korban tertembak polisi tidak sengaja, korban Lapindo, korban longsor, korban berdesakan rebutan kurban, dan korban lainnya. Hanya satu pertanyaan, apakah kita akan terus mentolerir korban-korban lain lagi?
  • Getir melihat makin parahnya panas bumi, apalagi setelah melihat film karya Al-Gore awal tahun lalu, dan melihat hasil konferensi, kebijakan, dan tingkah negara-negara di dunia. Sampah silikon menumpuk. Ekspor/impor limbah berbahaya makin menggila. Ah, sebagai penggemar gadget, saya juga ikut menyumbangnya :-(

2008

  • Berharap apa lagi untuk Indonesia?
  • Berharap Obama menang

Comments posted 10/01/08 02:43 AM

Selamat Datang Tahun Baru

Selamat datang tahun baru. Hari ini, dalam penanggalan Hijriyah, kita telah masuk hari pertama tahun 1429 H. Dan, meski telah lewat, kita juga baru saja memasuki tahun 2008.

Kilas Balik

Tahun lalu mempunyai makna istimewa dalam kehidupan saya. Kisahnya dimulai dengan keputusan berani untuk keluar kerja dan menjalani apa yang disebut kerja mandiri. Pada awalnya saya berniat untuk membesarkan badan usaha bersama kawan-kawan. Namun, seiring waktu dan hambatan administrasi, akhirnya saya bekerja benar-benar sendiri saja. Tepat pada saat bersamaan, saya mengenal platform TopCoder Studio yang juga baru diluncurkan awal 2007. Di situlah kemudian saya mendapatkan beberapa project. Dari TopCoder pula kemudian saya mendapat undangan untuk berlomba ke Amerika Serikat, bahkan dua kali, yakni ke Vegas pada Juli dan Orlando pada awal November lalu. Terima kasih TopCoder. Dan, puji syukur kepada Tuhan, sehingga keluarga kecil kami diberi karunia yang berlimpah lainnya.

Harapan

Untuk hari-hari ke depan, tentu saja baik kiranya menggelar harapan. Meski ada hal-hal yang tentu tidak bisa diutarakan di forum publik, namun kiranya ada beberapa hal yang menjadi harapan saya dan keluarga kecil kami di tahun mendatang:

  • Memperbaiki manajemen waktu yang masih parah, baik untuk pekerjaan, rumah tangga, atau ibadah.
  • Memperbaiki manajemen keuangan keluarga, parah pokoknya.
  • Meneruskan proyek kode W**** (maaf, ini sangat rahasia).
  • Meneruskan proyek perencanaan pembangunan rumah bagi keluarga kami
  • Mengatur rencana 2 atau 3 tahun ke depan itu (ini lebih sangat rahasia). Tapi beberapa orang mungkin sudah tau :-)
  • Lebih banyak membaca
  • Lebih banyak menulis
  • Lebih sabar dan lebih banyak senyum sebagai ayah :-)
  • Melanjutkan ngeblog dan segala aktivitasnya :-)

Itu saja kiranya yang bisa saya tulis kali ini. Wah, mungkin terlalu banyak untuk satu tahun. Saya juga bingung mau nulis apa lagi biar tulisan ini berisi. Yang pasti, anggap saja tulisan ini sebagai pencair kebekuan setelah sekian lama, berapa bulan?, tidak hadir di blog ini. Padahal saya sangat rindu menulis. Saya rindu perhatian Anda para pembaca :-)

Terakhir, terima kasih kepada istri dan putri kecil saya atas semuanya. Karunia indah di dunia ini adalah bercengkrama setiap hari dengan kalian.

Comments posted 10/01/08 01:59 AM

Indonesia di TCC07

TopCoder, perusahaan Amerika yang bergerak dalam jasa konsultasi software dengan metodologi dilombakan ini, akhir Oktober ini akan menggelar lomba tahunan lagi. Selain TopCoder Open 2007 yang diselenggarakan pada Juni lalu, lomba tahunan lainnya adalah khusus untuk peserta yang masih aktif sebagai mahasiswa (S1-S3). Lomba ini disebut TopCoder Collegiate Challenge 2007 (TCC07).

Seperti biasa, lomba tahunan TopCoder terdiri dari empat kategori: a) Algoritma; b) Component (yang dibagi dua: Design dan Development); c) Marathon Match; dan d) Studio Design Competition.

Nah, posting ini bukan sekedar informasi tentang lomba TopCoder, meski hal itu tentu saja menarik. Lebih menarik lagi, dari lima kategori lomba TopCoder Collegiate Challenge 2007, tiga kategori sudah pasti akan diikuti oleh peserta dari Indonesia.

Untuk lomba kategori Component Design akan diikuti oleh bramandia, sedang kategori Component Development enefem21 bakal bertarung lagi (TCO2007 dia juga ikut). Peserta lebih banyak ngumpul di Studio Design, di mana dari 8 pemimpin kompetisi, 3 orang dari Indonesia, termasuk pemimpin kompetisi abedavera. Peserta lain adalah Tricia_Tjia (kembali ikut setelah berhasil nomor 3 pada TCO2007 lalu), dan oton (ini adalah alias saya).

Sebagai catatan, Indonesia kali ini masuk sebagai negara 5 besar jumlah terbanyak di TCCC. Semoga semakin tahun semakin baik.

Selamat bertanding di TCCC07!

Komentar [2] posted 29/09/07 08:19 AM

Sakit

Negara telah sakit. Tatanan kita telah sakit.

Tentang Sakit. Inilah film terbaru karya Michael Moore yang saya tonton kemarin. Tentu saja berkat DVD bajakan. Film dokumenter macam ini mana mungkin bakal dimuat di bioskop kita. Hebatnya, konon film ini adalah film dokumenter dengan kocek terbesar memecahkan rekor film sebelumnya, juga karya Moore.

Film ini bercerita tentang orang-orang yang sakit, orang yang akan sakit, dan bagaiman orang sakit diperlukan oleh sebuah sistem sakit dalam memandang kesakitan orang.

Apa sih menariknya Moore, gendut, sengak begitu? Bikin film tentang sakit lagi??

Sakit (SiCKO) yang menjadi judul film ini bukan melulu berarti badan yang sakit, tetapi bisa pula diparodikan sebagai “Psycho”, orang yang “sakit” alias kurang waras. Ketidakwarasan ini digambarkan oleh Moore telah menggerogoti seluruh nasib bangsa besar seperti di Amerika Serikat (AS).

Konon, menurut penggambaran Moore, AS tidak peduli kepada bangsanya sendiri dan hanya mendahulukan kebijakan yang pro-pengusaha dan industri asuransi kesehatan. Akibatnya, semakin banyak korban berjatuhan, rakyat kecil yang tidak mendapat perlindungan kesehatan hanya karena sebuah masalah sederhana: SETIAP PERUSAHAAN ASURANSI sering MENOLAK KLAIM.

Lima puluh juta rakyat AS, menurut Moore, katanya tidak mempunyai asuransi. Tetapi kisah film ini bukan tentang hanya mereka. Tetapi juga tentang mereka yang mempunyai asuransi tetapi banyak yang ditolak klaimnya.

Kisah dimulai ketika Moore menemui seorang pekerja kasar yang pernah mengalami kecelakaan, dua jari tangannya terpotong. Ketika akan diobati, ia harus memilih antara jari tengah ($60,000) atau jari manis ($12,000). Demi kenangan manis, agar cincin kawinnya mendapat tempat yang tepat, ia memilih jari manis.

Begitu pula nasib banyak orang lainnya. Orang sangat miskin (gelandangan?) yang dikeluarkan dari rumah sakit. Ibu yang kehilangan suaminya gara-gara keputusan sepihak asuransi yang tiba-tiba membatalkan jaminan klaim, entah karena fakta apa. Ibu yang kehilangan anaknya, juga karena klaim yang tiba-tiba batal. Dan seterusnya. Tragis. Sakit.

Saya jadi terkejut. Mereka punya polis asuransi dan jelas-jelas melindungi berbagai penyakit yang ada. Tapi kenyataan tidak demikian. Menurut pengakuan seorang mantan tukang eksekusi pihak asuransi, mereka akan mencari segenap cara dan kelemahan agar asuransi tidak jadi menyetujui klaim yang masuk. Kesalahan minor seperti salah isi biodata, salah centang pertanyaan, bisa berakibat fatal seperti itu. Dan, menurut Moore, ada pula daftar puluhan (atau ratusan) daftar penyakit yang tidak dapat dikabulkan klaimnya. (Mereka punya panduan, SOP, untuk menangani setiap klaim yang masuk beserta respon standar, dan stempel wakil direkturnya. Doi ngaku sendiri di pengadilan!). Vonis standar bagi setiap klaim, tentu saja TOLAK!

(BTW: Ingat cerita Pelican Brief karya John Grisham yang versi filmnya dimainkan artis cantik Julia Roberts kan? Oh ya, juga Erin Brockovich, Julia Roberts pula!)

Kemudian kita diajak Moore berkunjung ke Kanada. Seorang yang sakit gara-gara main golf datang ke rumah sakit, lalu diobati dan beres. Gratis! Bahkan, ada pula orang Amerika pinggiran yang menyeberang ke Kanada, lalu mengaku sebagai “teman” (entah suami/istri sementara), agar mendapatkan pengobatan gratis di Kanada.

Lalu, Moore mengajak kita jalan-jalan melihat rumah sakit di Inggris. Di sana ia berbicara dengan beberapa pasien yang baru keluar dari rumah sakit. Ada suami-istri yang baru keluar (istrinya baru melahirkan), Moore bertanya kepada mereka, “Berapa biaya untuk semuanya?” Mereka bingung, lalu tertawa. “Biaya apa, semuanya gratis!” Ia kemudian bertanya pada beberapa pasien, jawaban mereka memang sama. Ajaib!

Sangat penasaran, ia kemudian berusaha mencari apakah ada bagian yang bertugas menagih pasien. Ia tidak menemukannya. Hanya ada sebuah loket bertuliskan kasir, tetapi kemudian ia tahu bahwa mereka bertugas memberi uang bagi pasien UGD untuk jalan pulang.

Begitu pula di Perancis. Bahkan, di sana ia mengikuti sebuah layanan kesehatan 24 jam yang menerima panggilan dari rumah. Juga gratis. Ada pula layanan laundry gratis yang disediakan oleh pemerintah bagi ibu baru melahirkan.

Untuk perlakuan terhadap ibu baru melahirkan, Eropa memang patut diacungi jempol. Bahkan di Norwegia, ibu baru melahirkan mendapat hak cuti penuh 1 tahun dengan gaji 80% (atau 10 bulan dengan gaji 100%) agar setiap anak mendapat asuhan ibu yang sempurna.

Kembali ke AS, Moore menemui beberapa orang mantan relawan pemadam kebakaran dan relawan lain dalam kejadian 9/11. Banyak dari meeka menderita sakit parah, entah pernapasan, atau paru-paru. Tragisnya, mereka tidak dapat mengobati karena selalu ditolak oleh pihak asuransi.

Kepada relawan itu, Moore kemudian mengajak mereka berkunjung ke Guantanamo, Kuba, tempat banyak teroris ditahan. Menurut dokumentasi televisi, tahanan di sini mendapat layanan kesehatan yang sempurna, dan tersedia secara gratis. Kata Moore, “Ah, setidaknya ada satu tanah Amerika yang gratis.”

Tapi ia gagal juga mendapat hak masuk di sana. Emangnya mereka tahanan, Moore?

Putus asa, para relawan yang sakit-sakitan itu dia ajak keliling Kuba, negara yang kita kenal pemimpinnya dibenci oleh Presiden AS turun-temurun itu. Sampailah mereka di rumah sakit setempat. Setelah mengungkapkan niat mereka, mereka ditanya nama dan umur. Lalu, seperti di negeri dongeng, apa ini juga dongeng saya tidak tahu, tanpa ditanya apakah mereka mempunyai polis asuransi atau tidak, mereka langsung mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Ah indahnya.

Konon, AS menurut ceritanya, sungguh takut dengan kebijakan yang mereka sebut socialized health system, ya alasannya biar tidak sosialis, komunis, atau apa lah, yang konon kualitas kesehatan nanti jelek. Padahal, Kanada, Perancis, dan Inggris, semua menganutnya dan kualitasnya siap berani bilang jelek? Kesejahteraan dokter, yang dilukiskan Moore dengan mewancarai seorang dokter di Inggris dan Perancis juga terjamin.

Ah, mungkin AS memang sedang sakit kali ini.

Komentar [4] posted 21/09/07 05:32 AM

Wahai Media, Sadarlah...

Apa yang menyebabkan heboh “penemuan” sejarah oleh seseorang yang dikatakan sebagai pakar telematika?

Saya tidak menyalahkan seorang berinisial KRMT RS, yang disebut sebagai pakar telematika oleh media. Hak setiap orang menyuarakan suaranya. Dan, hak setiap orang pingin suaranya didengar oleh banyak orang lainnya. Hanya salah media yang menyiarkan pakar salah dan kesalahkaprahan yang disebut sang pakar.

Tentang pakar, entah siapa yang memberi julukan itu. Tapi, saya kira banyak yang mafhum bahwa media di Indonesia akan ho’oh saja dengan apa pun jabatan atau gelar yang diakui sumbernya itu. Contoh: gelar dosen tapi omong soal politik tentu tidak keren, maka media yang suka poles muka akan menulis lain, jadilah “pakar politik nasional”. Atau, bila saya pingin menulis IT, padahal pekerjaan saya cuma membikin website, saya tulis saja “pakar IT”, kira-kira bisa dimuat kok. Begitulah kisah lahirnya sang pakar.

Bahkan, sudah umum, sebuatan-sebutan seperti “Kiai”, “Ustadz”, “Ulama”, “Tokoh” adalah sangat gampang dibikin oleh media. Sekali nama Anda tertancap sebagai gelar X, apalagi kalau Anda pintar omong, keren, dan lebih-lebih berkumis, jadilah anda si X. (Saya tidak bohong tentang kumis ini, sungguh kumis itu sangat menarik bagi kaum ibu, bukan?)

Media membutuhkan nara sumber yang makin lama makin kurang, karena kebanyakan media berkutat di Jakarta dan kota besar. Sumber berita di daerah kurang laku, biarpun omongannya benar belaka. Apalagi dikejar deadline, jadilah wartawan yang gajinya cukup buat bayar kartu kredit dan traktir sana-sini itu, tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya mencari daftar nama di Rolodexnya, dan ketemulah pakar atau ahli yang di Jakarta (atau yang gampang dihubungi dan gampang kasih komentar). Ah, cepat dihubungi, bisa difoto diambil gambar, besok tayang. Siip!

Lalu apakah tidak ada upaya cek silang di redaksi pemberitaan? Entahlah. Tampaknya, persaingan keras media untuk mengejar jadwal tayang pemberitaan memaksa mereka melupakan hal itu. Buru-buru mau dicek, wartawan cuma segelintir. Bisa-bisa besok tidak bisa tayang kalau harus mengecek setiap fakta (nama, tempat, kejadian, dan kaitan tema) yang diucapkan oleh sumber berita.

Wahai media, sepertinya saya sudah gatel, orang berinisial KRMT RS ini sudah nekat bin mabok. Masak komentar seperti tukang kebun dimuat di detik? Lucu sekali. Saya kira nasib KRMT RS ini nongol di media sebentar lagi bakal pupus dan sirna. Syukurlah, dia membunuh dirinya sendiri. Anda tidak percaya? Kalau hal itu tidak terjadi, berarti memang negara ini yang bodoh.

Ah, jadi ingat film Shattered Glass (2003), seorang wartawan 27 dari 41 beritanya adalah khayalan belaka. Bedanya, di Indonesia berpuluh media dikibulin oleh sumbernya. Hahahahaha….

Blog yang membahas isu ini lebih pedas:

Catatan: Maaf buat rekan wartawan. Saya tahu sistemlah yang membuat Anda seperti itu. Tapi Anda pun harusnya sadar :-)

Komentar [3] posted 07/08/07 01:13 PM

Liputan6 Ganti Wajah

Karena melihat kliping berita, jadilah saya tahu bahwa situs Liputan6 ganti wajah sejak 1 Agustus lalu. Inilah sedikit catatan saya.

Struktur Kode Valid

Ini prestasi besar buat tim web SCTV. Membuat situs dengan kode 100% valid (di halaman depan saja), menurut analisa Validator Firefox di komputer saya, sungguh susah. Ini patut diacungi jempol meski ada catatan di poin berikutnya (Isi tidak Semantik). Setiap kode yang valid menjamin kontrol presentasi yang sempurna pada tiap browser. Menjamin kualitas konten/isi terbaca untuk berbagai browser. Dan menjamin ketersediaan situs ke masa yang akan datang, sebab kode sudah dibentuk sesuai standar.

Struktur Isi tidak Semantik

Ini dapat dilihat ketika fasilitas CSS dimatikan. Arti tidak semantik adalah, semua isi situs Liputan6 adalah satu level, menandakan struktur konten yang tidak tepat. Konten/isi seharusnya punya hirarki, seperti: judul situs, judul berita, navigasi, isi, isi terkait, dan informasi umum. Dalam situs Liputan6 tidak ada hal ini.

Cara pengetesan paling gampang, pada artikel ini coba akses menu Ctrl-A (Select All), lalu copy isi situs ini di Word (Paste). Kemudian, sisipkan baris kosong pada di atas artikel. Dari situ, akses menu: Insert – Reference – Index & Table – pilih tab Table of Content, lalu klik OK. Maka, secara otomatis Anda akan dibuatkan daftar isi struktur isi situs ini. Coba isi situs Liputan6, hasilnya nihil. Padahal, struktur konten penting untuk mesin pencari, dan pengolah indeks digital lainnya.

Desain, Kecepatan, dan Lainnya

Secara umum, desain lebih “ringan” dibanding versi lama. Kecepatan panggil situs juga lebih nyaman. Mungkin karena memakai mesin dan sistem baru ya? :-) (Sok tahu saya ah!) Soalnya, pada situs lama, sepertinya Liputan6 memakai sistem konten proprietary seperti punya Vignette, yang khas dengan alamat URL-nya itu.

Penggunaan JavaScript model embed sepertinya harus dikurangi. Hal ini mengurangi aksesibilitas situs seandainya JavaScript dimatikan, atau situs tidak akan terbaca oleh mesin indeks (meski tidak menutup kemungkinan ada mesin indeks yang mengembangkan kemampuan ini).

Kritik lain, sayang sekali sidebar di sisi kanan halaman itu tidak dimanfaatkan dengan lebih baik. Informasi yang sama pada setiap halaman tentu tiada berguna. Alangkah lebih baik kalau sisi kanan dibantu dengan informasi, link, atau fasilitas yang terkait dengan berita dan membantu pembaca menemukan hal baru lainnya.

~~~

Saya kira itu dulu sedikit catatan saya karena keterbatasan waktu. Saya kira juga tidak tepat menyampaikan ulasan lebih detil di ruang ini. Tapi secara umum, prestasi Liputan6 untuk menata wajah situsnya dengan berusaha mematuhi pakem dan berpikir maju patut dihargai, mengingat masih banyak media lain yang melupakan hal ini. Contohlah Kompas yang melakukan operasi wajah situs besar-besaran tahun lalu (?). Sangat disayangkan, struktur dan metodologi pengembangan situs mereka masih ketinggalan.

Padahal, faktor adopsi standar dan metodologi ini bukan melulu untuk pamer bahwa kita ini compliance atau tidak. Di negara maju, praktek ini sudah terhitung sebagai usaha untuk efisiensi dalam sisi maintenance dan pengembangan situs, dan juga mendukung marketing dan publisitas secara umum.

Saya kira itu dulu, mudah-mudahan berguna.

Edit: Tambah catatan.

Komentar [9] posted 07/08/07 12:29 PM

Dalam Berita Liputan6

Ini berita yang ketinggalan, maklum habis liburan pulang kampung. Kegiatan saya di TopCoder Open diliput di Liputan6 beberapa waktu yang lalu. Gara-gara teman saya Andi cerita ke temannya, ah inilah publisitas.

Beberapa fakta:
1. Lulusan STM itu memang menarik ya? Hahaha
2. Sedikit koreksi, dalam narasi disebut saya tidak punya latar belakang informatika, ini salah. Saya memang lulusan STM, yaitu STM Telkom Shandy Putra, Malang, jurusan Elektronika Informatika. Jadi saya punya latar belakang informatika. Saya tahu dan mengenal komputer, belajar Teori Digital, bahasa pemrograman, dan aplikasi komputer ketika sekolah di sini.

Lulusan STM Juara Merancang Situs

Liputan6.com, Jakarta: Keterbatasan pendidikan formal bukan halangan untuk berprestasi dalam bidang teknologi tinggi di tingkat dunia. Arif Widianto contohnya, pria yang akrab disapa Oton ini tak punya gelar sarjana tapi menjadi pemenang kejuaraan dunia merancang situs dunia maya.

Oton meraih juara dua dalam Topcoder 2007 sebuah kompetisi pemrograman komputer yang diikuti peserta dari 25 negara. Walau menghadapi banyak tantangan, Oton menang dalam kategori kompetisi desain studio yang dilaksanakan di Las Vegas, Amerika Serikat, belum lama ini.

Putra seorang guru SD Jombang ini lulus Sekolah Teknik Menengah pada 1997. Oton merantau ke Jakarta dan magang di PT Indosat. Di tempat itu, suami Mulyani dan ayah Sofia Kamila ini mulai tertarik menjadi perancang situs web. Sejak itu, Oton mengembangkan diri secara otodidak.

Sekarang Oton bekerja mandiri sebagai perancang dan pengembang situs web. Dari satu proyek saja, Oton bisa memperoleh bayaran rata-rata antara Rp 7,5 sampai 25 juta.(TOZ/Mikotoro)

Komentar [7] posted 07/08/07 11:03 AM

Previous