Sakit

Negara telah sakit. Tatanan kita telah sakit.

Tentang Sakit. Inilah film terbaru karya Michael Moore yang saya tonton kemarin. Tentu saja berkat DVD bajakan. Film dokumenter macam ini mana mungkin bakal dimuat di bioskop kita. Hebatnya, konon film ini adalah film dokumenter dengan kocek terbesar memecahkan rekor film sebelumnya, juga karya Moore.

Film ini bercerita tentang orang-orang yang sakit, orang yang akan sakit, dan bagaiman orang sakit diperlukan oleh sebuah sistem sakit dalam memandang kesakitan orang.

Apa sih menariknya Moore, gendut, sengak begitu? Bikin film tentang sakit lagi??

Sakit (SiCKO) yang menjadi judul film ini bukan melulu berarti badan yang sakit, tetapi bisa pula diparodikan sebagai “Psycho”, orang yang “sakit” alias kurang waras. Ketidakwarasan ini digambarkan oleh Moore telah menggerogoti seluruh nasib bangsa besar seperti di Amerika Serikat (AS).

Konon, menurut penggambaran Moore, AS tidak peduli kepada bangsanya sendiri dan hanya mendahulukan kebijakan yang pro-pengusaha dan industri asuransi kesehatan. Akibatnya, semakin banyak korban berjatuhan, rakyat kecil yang tidak mendapat perlindungan kesehatan hanya karena sebuah masalah sederhana: SETIAP PERUSAHAAN ASURANSI sering MENOLAK KLAIM.

Lima puluh juta rakyat AS, menurut Moore, katanya tidak mempunyai asuransi. Tetapi kisah film ini bukan tentang hanya mereka. Tetapi juga tentang mereka yang mempunyai asuransi tetapi banyak yang ditolak klaimnya.

Kisah dimulai ketika Moore menemui seorang pekerja kasar yang pernah mengalami kecelakaan, dua jari tangannya terpotong. Ketika akan diobati, ia harus memilih antara jari tengah ($60,000) atau jari manis ($12,000). Demi kenangan manis, agar cincin kawinnya mendapat tempat yang tepat, ia memilih jari manis.

Begitu pula nasib banyak orang lainnya. Orang sangat miskin (gelandangan?) yang dikeluarkan dari rumah sakit. Ibu yang kehilangan suaminya gara-gara keputusan sepihak asuransi yang tiba-tiba membatalkan jaminan klaim, entah karena fakta apa. Ibu yang kehilangan anaknya, juga karena klaim yang tiba-tiba batal. Dan seterusnya. Tragis. Sakit.

Saya jadi terkejut. Mereka punya polis asuransi dan jelas-jelas melindungi berbagai penyakit yang ada. Tapi kenyataan tidak demikian. Menurut pengakuan seorang mantan tukang eksekusi pihak asuransi, mereka akan mencari segenap cara dan kelemahan agar asuransi tidak jadi menyetujui klaim yang masuk. Kesalahan minor seperti salah isi biodata, salah centang pertanyaan, bisa berakibat fatal seperti itu. Dan, menurut Moore, ada pula daftar puluhan (atau ratusan) daftar penyakit yang tidak dapat dikabulkan klaimnya. (Mereka punya panduan, SOP, untuk menangani setiap klaim yang masuk beserta respon standar, dan stempel wakil direkturnya. Doi ngaku sendiri di pengadilan!). Vonis standar bagi setiap klaim, tentu saja TOLAK!

(BTW: Ingat cerita Pelican Brief karya John Grisham yang versi filmnya dimainkan artis cantik Julia Roberts kan? Oh ya, juga Erin Brockovich, Julia Roberts pula!)

Kemudian kita diajak Moore berkunjung ke Kanada. Seorang yang sakit gara-gara main golf datang ke rumah sakit, lalu diobati dan beres. Gratis! Bahkan, ada pula orang Amerika pinggiran yang menyeberang ke Kanada, lalu mengaku sebagai “teman” (entah suami/istri sementara), agar mendapatkan pengobatan gratis di Kanada.

Lalu, Moore mengajak kita jalan-jalan melihat rumah sakit di Inggris. Di sana ia berbicara dengan beberapa pasien yang baru keluar dari rumah sakit. Ada suami-istri yang baru keluar (istrinya baru melahirkan), Moore bertanya kepada mereka, “Berapa biaya untuk semuanya?” Mereka bingung, lalu tertawa. “Biaya apa, semuanya gratis!” Ia kemudian bertanya pada beberapa pasien, jawaban mereka memang sama. Ajaib!

Sangat penasaran, ia kemudian berusaha mencari apakah ada bagian yang bertugas menagih pasien. Ia tidak menemukannya. Hanya ada sebuah loket bertuliskan kasir, tetapi kemudian ia tahu bahwa mereka bertugas memberi uang bagi pasien UGD untuk jalan pulang.

Begitu pula di Perancis. Bahkan, di sana ia mengikuti sebuah layanan kesehatan 24 jam yang menerima panggilan dari rumah. Juga gratis. Ada pula layanan laundry gratis yang disediakan oleh pemerintah bagi ibu baru melahirkan.

Untuk perlakuan terhadap ibu baru melahirkan, Eropa memang patut diacungi jempol. Bahkan di Norwegia, ibu baru melahirkan mendapat hak cuti penuh 1 tahun dengan gaji 80% (atau 10 bulan dengan gaji 100%) agar setiap anak mendapat asuhan ibu yang sempurna.

Kembali ke AS, Moore menemui beberapa orang mantan relawan pemadam kebakaran dan relawan lain dalam kejadian 9/11. Banyak dari meeka menderita sakit parah, entah pernapasan, atau paru-paru. Tragisnya, mereka tidak dapat mengobati karena selalu ditolak oleh pihak asuransi.

Kepada relawan itu, Moore kemudian mengajak mereka berkunjung ke Guantanamo, Kuba, tempat banyak teroris ditahan. Menurut dokumentasi televisi, tahanan di sini mendapat layanan kesehatan yang sempurna, dan tersedia secara gratis. Kata Moore, “Ah, setidaknya ada satu tanah Amerika yang gratis.”

Tapi ia gagal juga mendapat hak masuk di sana. Emangnya mereka tahanan, Moore?

Putus asa, para relawan yang sakit-sakitan itu dia ajak keliling Kuba, negara yang kita kenal pemimpinnya dibenci oleh Presiden AS turun-temurun itu. Sampailah mereka di rumah sakit setempat. Setelah mengungkapkan niat mereka, mereka ditanya nama dan umur. Lalu, seperti di negeri dongeng, apa ini juga dongeng saya tidak tahu, tanpa ditanya apakah mereka mempunyai polis asuransi atau tidak, mereka langsung mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Ah indahnya.

Konon, AS menurut ceritanya, sungguh takut dengan kebijakan yang mereka sebut socialized health system, ya alasannya biar tidak sosialis, komunis, atau apa lah, yang konon kualitas kesehatan nanti jelek. Padahal, Kanada, Perancis, dan Inggris, semua menganutnya dan kualitasnya siap berani bilang jelek? Kesejahteraan dokter, yang dilukiskan Moore dengan mewancarai seorang dokter di Inggris dan Perancis juga terjamin.

Ah, mungkin AS memang sedang sakit kali ini.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [4] posted 21/09/07 05:32 PM.

Wahai Media, Sadarlah...

Apa yang menyebabkan heboh “penemuan” sejarah oleh seseorang yang dikatakan sebagai pakar telematika?

Saya tidak menyalahkan seorang berinisial KRMT RS, yang disebut sebagai pakar telematika oleh media. Hak setiap orang menyuarakan suaranya. Dan, hak setiap orang pingin suaranya didengar oleh banyak orang lainnya. Hanya salah media yang menyiarkan pakar salah dan kesalahkaprahan yang disebut sang pakar.

Tentang pakar, entah siapa yang memberi julukan itu. Tapi, saya kira banyak yang mafhum bahwa media di Indonesia akan ho’oh saja dengan apa pun jabatan atau gelar yang diakui sumbernya itu. Contoh: gelar dosen tapi omong soal politik tentu tidak keren, maka media yang suka poles muka akan menulis lain, jadilah “pakar politik nasional”. Atau, bila saya pingin menulis IT, padahal pekerjaan saya cuma membikin website, saya tulis saja “pakar IT”, kira-kira bisa dimuat kok. Begitulah kisah lahirnya sang pakar.

Bahkan, sudah umum, sebuatan-sebutan seperti “Kiai”, “Ustadz”, “Ulama”, “Tokoh” adalah sangat gampang dibikin oleh media. Sekali nama Anda tertancap sebagai gelar X, apalagi kalau Anda pintar omong, keren, dan lebih-lebih berkumis, jadilah anda si X. (Saya tidak bohong tentang kumis ini, sungguh kumis itu sangat menarik bagi kaum ibu, bukan?)

Media membutuhkan nara sumber yang makin lama makin kurang, karena kebanyakan media berkutat di Jakarta dan kota besar. Sumber berita di daerah kurang laku, biarpun omongannya benar belaka. Apalagi dikejar deadline, jadilah wartawan yang gajinya cukup buat bayar kartu kredit dan traktir sana-sini itu, tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya mencari daftar nama di Rolodexnya, dan ketemulah pakar atau ahli yang di Jakarta (atau yang gampang dihubungi dan gampang kasih komentar). Ah, cepat dihubungi, bisa difoto diambil gambar, besok tayang. Siip!

Lalu apakah tidak ada upaya cek silang di redaksi pemberitaan? Entahlah. Tampaknya, persaingan keras media untuk mengejar jadwal tayang pemberitaan memaksa mereka melupakan hal itu. Buru-buru mau dicek, wartawan cuma segelintir. Bisa-bisa besok tidak bisa tayang kalau harus mengecek setiap fakta (nama, tempat, kejadian, dan kaitan tema) yang diucapkan oleh sumber berita.

Wahai media, sepertinya saya sudah gatel, orang berinisial KRMT RS ini sudah nekat bin mabok. Masak komentar seperti tukang kebun dimuat di detik? Lucu sekali. Saya kira nasib KRMT RS ini nongol di media sebentar lagi bakal pupus dan sirna. Syukurlah, dia membunuh dirinya sendiri. Anda tidak percaya? Kalau hal itu tidak terjadi, berarti memang negara ini yang bodoh.

Ah, jadi ingat film Shattered Glass (2003), seorang wartawan 27 dari 41 beritanya adalah khayalan belaka. Bedanya, di Indonesia berpuluh media dikibulin oleh sumbernya. Hahahahaha….

Blog yang membahas isu ini lebih pedas:

Catatan: Maaf buat rekan wartawan. Saya tahu sistemlah yang membuat Anda seperti itu. Tapi Anda pun harusnya sadar :-)

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [5] posted 08/08/07 01:13 AM.

Liputan6 Ganti Wajah

Karena melihat kliping berita, jadilah saya tahu bahwa situs Liputan6 ganti wajah sejak 1 Agustus lalu. Inilah sedikit catatan saya.

Struktur Kode Valid

Ini prestasi besar buat tim web SCTV. Membuat situs dengan kode 100% valid (di halaman depan saja), menurut analisa Validator Firefox di komputer saya, sungguh susah. Ini patut diacungi jempol meski ada catatan di poin berikutnya (Isi tidak Semantik). Setiap kode yang valid menjamin kontrol presentasi yang sempurna pada tiap browser. Menjamin kualitas konten/isi terbaca untuk berbagai browser. Dan menjamin ketersediaan situs ke masa yang akan datang, sebab kode sudah dibentuk sesuai standar.

Struktur Isi tidak Semantik

Ini dapat dilihat ketika fasilitas CSS dimatikan. Arti tidak semantik adalah, semua isi situs Liputan6 adalah satu level, menandakan struktur konten yang tidak tepat. Konten/isi seharusnya punya hirarki, seperti: judul situs, judul berita, navigasi, isi, isi terkait, dan informasi umum. Dalam situs Liputan6 tidak ada hal ini.

Cara pengetesan paling gampang, pada artikel ini coba akses menu Ctrl-A (Select All), lalu copy isi situs ini di Word (Paste). Kemudian, sisipkan baris kosong pada di atas artikel. Dari situ, akses menu: Insert – Reference – Index & Table – pilih tab Table of Content, lalu klik OK. Maka, secara otomatis Anda akan dibuatkan daftar isi struktur isi situs ini. Coba isi situs Liputan6, hasilnya nihil. Padahal, struktur konten penting untuk mesin pencari, dan pengolah indeks digital lainnya.

Desain, Kecepatan, dan Lainnya

Secara umum, desain lebih “ringan” dibanding versi lama. Kecepatan panggil situs juga lebih nyaman. Mungkin karena memakai mesin dan sistem baru ya? :-) (Sok tahu saya ah!) Soalnya, pada situs lama, sepertinya Liputan6 memakai sistem konten proprietary seperti punya Vignette, yang khas dengan alamat URL-nya itu.

Penggunaan JavaScript model embed sepertinya harus dikurangi. Hal ini mengurangi aksesibilitas situs seandainya JavaScript dimatikan, atau situs tidak akan terbaca oleh mesin indeks (meski tidak menutup kemungkinan ada mesin indeks yang mengembangkan kemampuan ini).

Kritik lain, sayang sekali sidebar di sisi kanan halaman itu tidak dimanfaatkan dengan lebih baik. Informasi yang sama pada setiap halaman tentu tiada berguna. Alangkah lebih baik kalau sisi kanan dibantu dengan informasi, link, atau fasilitas yang terkait dengan berita dan membantu pembaca menemukan hal baru lainnya.

~~~

Saya kira itu dulu sedikit catatan saya karena keterbatasan waktu. Saya kira juga tidak tepat menyampaikan ulasan lebih detil di ruang ini. Tapi secara umum, prestasi Liputan6 untuk menata wajah situsnya dengan berusaha mematuhi pakem dan berpikir maju patut dihargai, mengingat masih banyak media lain yang melupakan hal ini. Contohlah Kompas yang melakukan operasi wajah situs besar-besaran tahun lalu (?). Sangat disayangkan, struktur dan metodologi pengembangan situs mereka masih ketinggalan.

Padahal, faktor adopsi standar dan metodologi ini bukan melulu untuk pamer bahwa kita ini compliance atau tidak. Di negara maju, praktek ini sudah terhitung sebagai usaha untuk efisiensi dalam sisi maintenance dan pengembangan situs, dan juga mendukung marketing dan publisitas secara umum.

Saya kira itu dulu, mudah-mudahan berguna.

Edit: Tambah catatan.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [10] posted 08/08/07 12:29 AM.

Dalam Berita Liputan6

Ini berita yang ketinggalan, maklum habis liburan pulang kampung. Kegiatan saya di TopCoder Open diliput di Liputan6 beberapa waktu yang lalu. Gara-gara teman saya Andi cerita ke temannya, ah inilah publisitas.

Beberapa fakta:
1. Lulusan STM itu memang menarik ya? Hahaha
2. Sedikit koreksi, dalam narasi disebut saya tidak punya latar belakang informatika, ini salah. Saya memang lulusan STM, yaitu STM Telkom Shandy Putra, Malang, jurusan Elektronika Informatika. Jadi saya punya latar belakang informatika. Saya tahu dan mengenal komputer, belajar Teori Digital, bahasa pemrograman, dan aplikasi komputer ketika sekolah di sini.

Lulusan STM Juara Merancang Situs

Liputan6.com, Jakarta: Keterbatasan pendidikan formal bukan halangan untuk berprestasi dalam bidang teknologi tinggi di tingkat dunia. Arif Widianto contohnya, pria yang akrab disapa Oton ini tak punya gelar sarjana tapi menjadi pemenang kejuaraan dunia merancang situs dunia maya.

Oton meraih juara dua dalam Topcoder 2007 sebuah kompetisi pemrograman komputer yang diikuti peserta dari 25 negara. Walau menghadapi banyak tantangan, Oton menang dalam kategori kompetisi desain studio yang dilaksanakan di Las Vegas, Amerika Serikat, belum lama ini.

Putra seorang guru SD Jombang ini lulus Sekolah Teknik Menengah pada 1997. Oton merantau ke Jakarta dan magang di PT Indosat. Di tempat itu, suami Mulyani dan ayah Sofia Kamila ini mulai tertarik menjadi perancang situs web. Sejak itu, Oton mengembangkan diri secara otodidak.

Sekarang Oton bekerja mandiri sebagai perancang dan pengembang situs web. Dari satu proyek saja, Oton bisa memperoleh bayaran rata-rata antara Rp 7,5 sampai 25 juta.(TOZ/Mikotoro)

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [7] posted 07/08/07 11:03 PM.

Rekaman dari Vegas

Menyambung tulisan sebelumnya tentang keikutsertaan saya dalam 2007 TopCoder Open, berikut adalah catatan perjalanan saya dari Jakarta menuju Vegas dan sebaliknya. Tulisan baru dimuat sekarang setelah mencari serpihan-serpihan data yang tercerai-berai di mana-mana. Juga karena baru saat ini ada waktu untuk memuatnya.

Ada beberapa hal menarik, selain sedikit foto yang sempat saya rekam. Ketika ransit di Bangkok untuk menuju Tokyo, tiket saya ternyata ditolak oleh maskapai Northwest, katanya mereka punya masalah dengan Garuda Indonesia. Lalu kejadian ketika masuk imigrasi dan harus register di Special Registration Office.

Semoga bermanfaat.

Jakarta, GMT +7

25 Juni 2007 17:30 – Pamit dengan keluarga, berat harus berpisah dengan si kecil yang lucu.

25 Juni 2007 22:00 – Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bangkok. Ketemu dengan Pak Arswendo. Orangnya ternyata sungguh gondrong beneran, baik rambut dan jenggotnya, hehehe. Orangnya bener-bener cool.

Bangkok, GMT +7

26 Juni 2007 01:30 – Sampai di Bangkok. Jam berangkat pesat ke Tokyo adalah pukul 06:00. Masih ada waktu sekitar 3,5 jam. Beli minum dan bersih-bersih badan.

 

26 Juni 2007 03:00 – Check in di konter Northwest dan mengetahui masalah, tiket terusan reservasi dari Garuda Indonesia tidak diterima. Saya harus beli tiket baru kalau ingin terbang dengan meraka. Alasannya tidak masuk akal, katanya sejak 4 Mei mereka mempunyai broken agreement dengan Garuda, padahal tiket saya direservasi pada 25 Mei.

Yang salah siapa? Agen travel yang disewa TopCoder, Globe Travel? Ataukah Garuda? Atau Nortwest? Setelah dipingpong dari konter Garuda ke Nortwest dan sebaliknya, tapi juga belum mendapatkan jawaban jelas. Saya telepon agen travel dan menjelaskan masalah saya.

Satu jam. Dua jam, tiket konter telah tutup. Saya sudah bepikir pasrah, tiket ke Jakarta 200 dolar. Kartu kredit masih cukup. Ya sudah, kalau tidak bisa berangkat, saya siap balik ke Jakarta.

Beberapa menit kemudian, ketika saya iseng menghibur diri melihat megahnya Bandar Suvarnabhumi, staf agen travel tersebut nelpon lagi, katanya tiket saya memang tidak bisa dipakai lagi, dia memberi solusi akan membelikan tiket baru dengan maskapai lain. Saya menyetujui. Saya lalu salat Subuh di musola bandara. Selesai salat dan bersantai di musola, sekitar pukul 6:10 handphone saya berdering. Staf agen travel mengabarkan dia sudah memesan tiket pengganti saya dengan United Airlines. Katanya saya harus cepat-cepat karena sepuluh menit lagi konter sudah tutup.

 

26 Juni 2007 07:00 – Setelah berlari-lari, masuk imigrasi via konter diplomat, dan dikawal dari pintu ke pintu oleh petugas United di Bangkok, akhirnya saya masuk pesawat 5 menit sebelum pesawat take off. Menegangkan.

Tokyo, GMT +9

26 Juni 2007 15:00 – Sampai di bandara Narita, Tokyo.

26 Juni 2007 16:55 – Terbang lagi menuju Los Angeles.

 

Los Angeles, GMT -8

26 Juni 2007 10:30 – Sampai di Los Angeles. Antrian yang lama di imigrasi. Kemudian masuk kantor imigrasi untuk special registration. Saya diberi pertanyaan lanjutan mengenai kunjungan ke Amerika dan juga saya diwajibkan mendaftar kembali di bandara ini ketika kembali. Mendengar hal ini, saya ingat, karena seluruh tiket saya sebelum tidak berlaku, maka saya belum tahu tiket balik nanti dari bandara mana. Mudah-mudahan saja orang travelnya mengerti, nanti bisa saya urus dengan pihak TopCoder dan agen travelnya.

 

26 Juni 2007 12:30 – Karena lama di imigrasi dan sikap tidak suka menolong petugas bandara (inikah etika Barat?), saya hampir tertinggal pesawat menuju Las Vegas. Saya baru menyadari bahwa nomor-nomor besar di setiap tiang itu adalah nomor gate. Dari gate 6, saya berjalan cuma 10 menit ke gate 7. Padahal, ketika tanya ke Petugas, ia cuma bilang, “Untuk ke Gate 7, Anda bisa memakai bus nomor A seperti Apple, atau berjalan kaki ke ujung sana (sambil menunjuk seperti tempat itu jauh sekali, lalu lihat di sebelah kanan.” Padahal, ia bisa saja bilang, oh jalan saja dekat kok. Lihat angka di tiang itu, angka 7 adalah Gate 7. Inilah efek desain informasi yang tidak usable. Sama, lima menit setelah saya masuk, pesawat berangkat.

Las Vegas, GMT -8

26 Juni 2007 13:50 – Sampai di Vegas. Benar-benar kota judi. Bayangkan, di pintu keluar bandara dan konter bagasi saja sudah disambut dengan mesin jackpot.

 

26 Juni 2007 17:00 – Check in di The Mirage. Masuk kamar, mandi. Dan tidur-tiduran sebentar.

26 Juni 2007 19:00 – TopCoder Open Welcome Reception. Akhirnya tahu tugas Studio untuk esok harinya, dan juga kenalan dengan kompetitor Studio lainnya.

 

 

27 Juni 2007 08:00 – Sarapan dan melihat-lihat lomba Algo. Lalu jalan-jalan lihat suasana Vegas.

 

 

28 Juni 2007 07:30 – Sarapan dan siap-siap di arena lomba.

28 Juni 2007 08:30 – Berloma di onsite Studio Design Competition.

 

28 Juni 2007 18:00 – Lomba selesai. Masuk kamar, mandi, dan tidur sebentar.

28 Juni 2007 20:00 – Makan malam di Pinot Brasserie di The Venetian (atas traktiran sponsor AOL). Lalu nonton The Blue Man Show. Atraksi seni kontemporer yang kaya teknologi. Memadukan skrip yang cerdas, humor yang trengginas, dan rekayasa teknologi dalam bentuk tata lampu, alih suara yang dahsyat, dan juga interaktifitas dengan penonton. Pengalaman berharga, mengingat harga tiketnya juga mahal. Pengalaman mahalnya tiket pertunjukan Ketoprak Humor dan Teater di GKJ jadi tidak terasa. Tidak ada foto dalam pertunjukan, katanya kalau motret kita akan ditarik paksa oleh manajer pertunjukan atau dilontarkan dari kursi.

29 Juni 2007 12:00 – Di arena, nonton filal Algo yang seru dan juga pengumuman. Sempatin pula bergaya bareng cowok kompetitor Studio. Tak ketinggalan, dengan Jessica Williams, bos Studio TopCoder.

 

29 Juni 2007 15:10 – Saya tahu saya mendapat urutan dua dari voting.

29 Juni 2007 17:00 – Pesta perpisahan di Kahunavilla, Treasure Island. Sayang tidak ada makanan, padahal perut ini sangat lapar.

29 Juni 2007 21:00 – Pergi ke McD di depan The Mirage, makan BigMac + Meal. Lumayan kenyang!

30 Juni 2007 09:00 – Saya dijadwalkan balik besok pagi, tapi ada kendala di imigrasi. Saya telpon ke Barbara Healy, panitia di TopCoder yang bertugas mengurus tiket. Ternyata saya mendapat tiket balik via San Fransisco. Saya jelaskan bahwa menurut aturan di Special Registration di imigrasi, katanya saya harus balik via Port ketika saya masuk Amerika, yaitu Los Angeles. Mungkin dia bisa tanya-tanya ke orang yang lebih ahli atau attorney imigrasi lah.

30 Juni 2007 12:00 – Saya dapat jawaban, saya memang harus balik via Los Angeles. Barbara mengusahakan untuk mencari tiket penggantinya.

30 Juni 2007 13:30 – Tiket didapat, tetapi saya harus balik pada tanggal 2 karena tiket untuk tanggal 1 harganya selangit. Ya sudah, kebetulan, ada sisa 2 hari untuk melihat-lihat Vegas.

30 Juni 2007 17:00 – Naik cab pertama kali. Saya harus bayar 13 dolar, lumayan lah. Cari barang menarik pesenan mamanya untuk si kecil.

30 Juni 2007 17:00 – Nyari taksi balik ternyata susah. Saya tidak bisa nyegat di pinggir jalan. Untung ada sopir taksi yang sedang melepas penat nyari makan di lokasi itu. Malamnya jalan-jalan melihat Vegas.

 

 

30 Juni 2007 19:00 – Kembali ke hotel dengan selamat.

1 Juli 2007 11:00 – Saya bersama Nanda jalan-jalan ke toko buku Borders di pinggiran Vegas. Kali ini pingin jalan kaki, dan ampun, jauhnya. Kira-kira jalan sekitar 3 mil di tengah udara musim panas yang menyengat, sekitar 45 derajat celcius. Menyesal di akhir tidak ada gunanya kan? Akhirnya kita naik bus karena masih satu ruas jalan lagi. Saya baru tahu, mencari bus sungguh melelahkan. Kita harus menunggu lebih dari 30 menit, dan tidak ada jadwal kapan bus berikut akan datang.

 

1 Juli 2007 14:00 – Balik ke hotel berpeluh dan berdaki. Capek. Lapar.

1 Juli 2007 18:00 – Makan burger lagi di Burger King. Paling murah kan burger, hehehe. Lalu jalan-jalan untuk cari oleh-oleh.

1 Juli 2007 21:00 – Setelah dapat kaos Vegas 8 buah untuk keluarga (maklum bujet sudah menipis, apalagi sempat hilang 100 dolar ketika di Bangkok), akhirnya ada waktu menikmati Vegas di malam terakhir.

1 Juli 2007 22:00 – Nonton indahnya Bellagio Fountain untuk terakhir kalinya.

2 Juli 2007 02:00 – Setelah ngepak, tidur.

2 Juli 2007 05:00 – Bangun. Thanks to the helpful operator. Langsung bergegas ke konter untuk mencari info tumpangan balik ke bandara.

2 Juli 2007 07:00 – Setelah berhasil meyakinkan pihak Carey Internation dan Executive Star untuk tumpangan balik, mengingat jadwal saya yang diubah 2 hari tetapi tidak dikabarkan ke pihak mobil, akhirnya saya diijinkan numpang mobil mereka ke Bandara. Syukur, tidak harus mengeluarkan tambahan kocek 25 dolar untuk taksi.

2 Juli 2007 08:00 – Terbang dari Vegas. Bye bye the City of Entertainment.

Los Angeles, GMT -8

2 Juli 2007 09:09 – Sampai di Los Angeles. Setelah tanya beberapa petugas, akhirnya menemukan Tom Bradley International Arrivals. Setelah melaporkan kepulangan saya pada hari itu pada Special Registration Office. Lalu saya balik lagi ke Gate 7. Sempat ambil foto-foto sambil menunggu antrian pemeriksaan di gate.

2 Juli 2007 12:34 – Terbang dari Los Angeles Menuju Tokyo.

 

Tokyo, GMT +9

3 Juli 2007 15:55 – Sampai di Tokyo. Agak merasa aneh karena setelah menempuh perjalanan 10 jam, kok waktu masih jam tiga sore. Apakah ini jetlag?

3 Juli 2007 18:30 – Terbang dari Tokyo menuju Bangkok.

Bangkok, GMT +7

3 Juli 2007 23:10 – Sampai di Bangkok. Setelah keluar imigrasi dan mencari bagasi, istirahat dan besih-bersih badan lalu salat di mushala bandara. Ambil foto bandara Suvarnabhumi yang megah dan indah. Maklum, pada keberangkatan sebelumnya, baterai kamera habis, baterai cadangan juga tuntas. Sempat cari-cari toko tapi sudah tutup semua.

 

4 Juli 2007 00:30 – Masuk imigrasi dan check in di konter Garuda.

4 Juli 2007 02:30 – Ngomel-ngomel, penerbangan ditunda 30 menit. Ah, saya merasakan kembali suasana Indonesia rupanya. Padahal sudah pingin segera tiba di rumah.

4 Juli 2007 03:00 – Mnggerutu lagi, penerbangan ditunda lagi sekitar 30 menit. Penumpang bisa masuk 15 menit lagi katanya. Ah, benar-benar Indonesia.

4 Juli 2007 03:30 – Pesawat akhirnya terbang dari Bangkok menuju Jakarta. I’m coming home!

Jakarta, GMT +7

4 Juli 2007 07:00 – Sampai di Jakarta. Benar-benar jetlag. Badan capek, tapi rasanya belum waktunya tidur. Ngantuk banget sih. Hingga sore hari benar-benar tak bisa tidur. Hidung mimisan pula.

5 Juli 2007 – Setelah tidur pulas dari Maghrib hingga Subuh. Badan saya kembali ke kondisi semula. Hidung masih kurang bener, tapi besoknya sudah sehat kembali.

15 Juli 2007 – Terima kasih telah membaca hingga baris ini. Semoga cerita ini berguna buat yang lain, terutama bagi yang ingin bepergian atau merencanakan pergi ke Amerika dan kota lainnya.

Catatan

Dari kejadian-kejadian di atas, berikut catatan kecil yang mudah-mudahan bisa berguna bagi siapa saja yang mempersiapkan perjalanan jauh khususnya ke Amerika Serikat di tengah panasnya isu keamanan yang makin mengetatkan penjagaan di imigrasi dan perjalanan Anda.

  • Anda bisa membawa barang bawaan gel berukuran kurang dari 100ml seperti pasta gigi, busa pembersih muka, salep, atau obat-obatan, asalkan dibungkus dengan plastik klip (seperti dari apotik itu lo) transparan dan jelas.
  • Bawa uang cukup, untuk jaga-jaga kalau ada kejadian kritis yang membutuhkan cash. Jumlah paling aman saya rasa minimal 150 dolar (kalau perjalanan dibayar oleh pihak lain), dan simpan di tempat aman. Kalau perjalanan Anda atas biaya sendiri, mungkin jumlah ini bisa ditambah lebih banyak.
  • Recharge kartu kredit Anda, hal ini berguna kalau kita membutuhkannya untuk keadaan darurat, misalnya untuk menelepon darurat di public phone (taripnya jauh lebih murah dibanding via ponsel). Atau membeli makanan di konter-konter resmi yang menerima kartu kredit.
  • Sebelum tiba di lokasi tujuan, pelajari sistem keimigrasian. Terutama bila Anda akan masuk ke negara-negara yang makin memperketat sistem keamanannya, seperti Amerika Serikat dan Inggris.
  • Bila ingin jalan-jalan dan belanja, pelajari dulu sistem transportasi di daerah tujuan. Hal ini bisa menghemat beberapa puluh dolar, misalnya untuk naik bus daripada naik taksi.
  • Jawab dan utarakan dengan jujur dan jelas setiap berada di imigrasi. Tanyakan setiap kondisi atau aturan yang berlaku, agar perjalanan Anda juga mudah.

Foto-foto selengkapnya, silakan lihat di halaman flickr saya. Foto diambil dengan kamera kompak Canon Powershot A530 dan bantuan timer 10 detik.

Terima kasih untuk kawan-kawan yang mengirim email baik sebelum berangkat atau sebelum berangkat. Serta terima kasih selalu buat anak-anak Moklet Ngalam, bravo Wikusama selalu!

Catatan: Tiga foto di atas adalah copyright TopCoder, diambil tanpa ijin dari situs mereka (karena faktor linking yang tak mungkin). Foto lain adalah hasil karya saya sendiri.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [12] posted 15/07/07 12:02 PM.

Setelah dari Vegas

Saya tidak pernah bermimpi bisa ke Las Vegas.

Musykil Mustahil sekali, selain mahal untuk pergi ke sana, saya toh juga tidak berjudi. Lebih enak mimpi pergi ke Eropa, saya ingin sekali mengetahui eloknya Paris atau Venesia.

Maka ketika pada Januari 2007, TopCoder mengumumkan turnamen 2007 TopCoder Open akan diselenggarakan di Vegas, saya cuma menggumam kecil. Wow, menarik. Tapi apakah saya ada harapan, itu pertanyaan berikutnya.

Akhirnya, turnamen yang diselenggarakan selama dua bulan secara online itu pun berakhir pada April 2007. Dari delapan besar yang ada, ada tiga nama asal Indonesia. Nomor urut pertama adalah maxsense, Tricia_Tjia, dan saya.

Saya masuk kategori delapan besar untuk lomba Studio Design Competition. Lomba yang saya ikuti ini adalah kategori baru dari turnamen tahunan yang diadakan TopCoder ini. Kategori baru ini untuk menampung lomba-lomba yang mengangkat unsur kreatifitas, seperti desain, ide, dan bentuk pekerjaan abstrak lainnya.

Setelah diseleksi dari kelengkapan dokumen, Visa, dan lain-lainnya, akhirnya hanya dua orang yang berangkat dari Indonesia untuk kategori Studio ini. Satu kontestan Indonesia lainnya adalah Nanda Firdausi untuk kategori Development.

Lomba Studio onsite itu cukup menarik. Kita diberi tugas mendesain website Studio dalam waktu delapan jam. Masing-masing 2,5 jam untuk desain awal, kemudian 30 menit diskusi dengan panel untuk mendapatkan masukan dan saran, dan dilanjutkan 5 jam untuk finalisasi. Cukup berat dan menantang. Pemenang ditentukan melalui voting anggota TopCoder.

Hasil akhirnya secara berurutan: yiming, saya, dan Tricia. Hasil lengkap bisa dilihat di halaman ini atau dari foto ini. Meski sejak awal saya mengkritik kebijakan penentuan pemenang lomba kreatifitas melalui voting, tapi inilah hasilnya.

Sebagai catatan, dalam wawancara via email dan beberapa kritik di forum, penentuan pemenang melalui voting selalui menuai kontroversi karena hasilnya trivial. Pada suatu saat, misalnya lomba logo, hasil dari voting memang benar-benar sesuai harapan. Tetapi pada lomba desain, kadang-kadang hasil akhir sangat tidak memuaskan baik bagi desainer dan juga anggota lainnya. Saya percaya Studio yang masih dalam tahun awal ini pasti akan memperbaiki untuk menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.

Mudah-mudahan ada kesempatan lagi di tahun depan. Barangkali dengan semakin banyak teman-teman Indonesia yang tahu mungkin akan menambah peserta dari Indonesia. Indonesia punya potensi karena banyak desainer berbakat yang mungkin tidak mengetahui kompetisi ini. Saya berharap akan banyak yang mendaftar, pasti kompetisi akan lebih seru.

Pertanyaan bagi diri saya pribadi adalah, setelah dari Vegas apa? Well, bagi desainer dengan ideologi yang kuat (dan kaku hehehe, sudah jadi syle), khususnya layout yang sederhana dan fokus ke usability dan accesibility, mungkin sangat susah untuk menarik perhatian voters agar desain saya sukses. Karena ini memang berlawanan (meski juga tidak selalu, saya tahu itu). Saya menyukai desain, dan saya juga menyukai web development khususnya web standard dan juga pengembangan aplikasi lainnya. Mungkin, setelah dari Vegas adalah saat yang tepat untuk memulai.

Catatan lain akan menyusul. Foto juga akan menyusul.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [7] posted 15/07/07 10:38 AM.

Pimred Meminta Maaf karena Iklan

Chris Anderson, pemimpin redaksi majalah Wired (dan situs online Wired) meminta maaf kepada pembacanya tentang iklan yang sangat mengganggu di situs mereka.

Meski saya belum membaca secara resmi permintaan penyesalan ini di blog resmi Wired, pernyataan ini ditulis Chris di blog pribadinya, The Long Tail, tapi praktek meminta maaf ini sungguh menarik empati, paling tidak bagi saya.

Menurut Chris dlam update terbaru kasus ini, iklan itu menutup hampir sebagian besar halaman muka situs Wired. Iklan flash tersebut, parahnya tidak mempunyai tombol Close untuk menutup iklan. Sungguh mengganggu memang. Chris mengaku, ia heran kenapa iklan seperti ini lolos dari QA (Quality Assurance) mereka.

Bayangkan, Chris tentu punya konflik kepentingan dengan publisher lalu meminta maaf bahwa salah satu iklan yang ditampilkan di situ mereka membuat website Wired tidak bisa dibaca. Ia punya kontrak dengan publisher iklan, dan kesalahan ini sebagian besar adalah kesalahan timnya, tim QA. Tapi itulah yang terjadi. Lima jam iklan itu menutup situs mereka. Hanya permintaan maaf yang bisa mengungkapkan kejadian itu lebih baik, untuk kepentingan pengiklan tentu saja, dan pembaca pada khususnya.

Di Indonesia bagaimana? Ah lupakan saja. Saya sudah mematikan fasilitas flash di beberapa situs seperti detik, kompas, dll. Jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya iklan mereka merusak tampilan publikasi mereka sendiri, juga mengganggu kenyamanan saat membaca.

Pelajaran dari kasus ini, iklan memang penting untuk publikasi online, tapi tidak semata-mata demi iklan lalu kepentingan pembaca harus dikalahkan demi kepentingan publisher iklan (meski pada kasus iklan AT&T itu bukan murni kesalahan mereka). Pembaca tentu akan lebih menghargai media seperti ini, bukan?

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [2] posted 14/06/07 11:41 AM.

Tanggungjawab Sosial Media

Saya salut sekali dengan peran media massa dalam kasus kekerasan di sekolah kedinasan pamong praja IPDN. Tengoklah apa yang dilakukan SCTV. Sejak bergulirnya kasus kematian Cliff Muntu, SCTV mengalokasikan hampir seluruh waktu tayang Liputan6 untuk kasus kekerasan IPDN. Kalau dilakukan Analisis Isi, inilah stasiun yang secara fokus dan konsisten mengulas kasus ini.

Dalam 1-2 hari pertama kasus ini bergulir, SCTV mengalokasikan lebih dari 50% jam tayang untuk mengusung kasus IPDN. Tema utamanya juga sangat unik, Masih Perlukah IPDN?

Pemilihan tema ini tentu sangat menarik. Dibandingkan dengan sudut pandang yang diangkat oleh media lain, seperti berita ANTV yang juga cukup banyak mengangkat kasus IPDN, SCTV tampak lebih fokus dan lebih siap menghajar IPDN.

Tak heran, saya sendiri lebih suka segera memindah kanal TV untuk segera mengikuti siaran SCTV tentang kasus ini. Dalam pandangan saya, apa yang diangkat SCTV sebenarnya adalah apa yang masyarakat umum rasakan tentang kasus kekerasan di IPDN itu. SCTV memahami benak masyarakat. Pilihan tegas untuk memuaskan keingintahuan masyarakat inilah inti bisnis media sesungguhnya.

Pilihan tegas untuk menyiarkan apa yang seharusnya diketahui masyarakat inilah yang saya rasakan sebagai tanggungjawab sosial media.

Kritik saya terhadap SCTV, memang telah cukup apa yang ditayangkan dari sudut pandang seorang pengungkap kasus. Tapi cobalah investigasi lebih lanjut kasus ini. Pengungkapan beberapa terpidana kasus kekerasan sebelumnya juga cukup menarik. Tapi kasus-kasus ini perlu juga diberikan perluasan sudut pandang, menurut saya, masih banyak hal-hal yang menjadi keingintahuan masyarakat yang belum terjawab dalam berbagai liputan media.

Saya selalu ingin tahu, Kapan praja mengalami kekerasan pertama kali di IPDN/STPDN? Tentu cukup mudah menanyakan hal ini. Bisa ditanyakan ke mahasiswa aktif, atau kalau tidak ada yang mengaku, coba tanyakan ke mahasiswa non-aktif, mahasiswa yang kabur karena tidak tahan dengan budaya kekerasan itu, atau mantan mahasiswa yang masih sadar sebagai manusia.

Pertanyaan selanjutnya, Kenapa mahasiswa yang masih aktif tidak berani mengaku? Pertanyaan ini bisa membawa ke rasa ingin tahu lainnya, apakah mereka dipaksa oleh pejabat IPDN yang aktif? Siapa? Rektorkah? Bawahan rektor? Kenapa rektor melarang? Apa ada hubungannya dengan siswa-siwa yang melakukan kekerasan? Siapa saja siswa ini? Dari mana asalnya? Siapa orang tua siswa ini? Apakah orangtua mereka pejabat? Kalau pejabat, apakah ada yang menjadi pejabat tinggi di republik ini?

Kemudian, kenapa rumah sakit terkesan bungkam mengungkam berbagai kasus kematian tidak wajar mahasiswa? Kenapa pula mahasiswa yang ditanya oleh Wakil Presiden terkesan tidak wajar, apa tidak mungkin ia mendengar ada kekerasan di samping ruangannya?

Dan seterusnya, masih banyak yang saya rasa perlu dijawab oleh media massa. Belum lagi masalah keuangan. Dalam film All The President’s Man, Deep Throat, seorang pejabat pemerintahan Amerika Serikat yang menjadi sumber rahasia Carl Bernstein dan Bob Woodward dalam kasus Watergate, ketika ditanya siapa orang yang berperan dalam kasus tersebut, ia selalu menjawab, “Follow the money!”

Ikuti alur uang. Dalam setiap kejadian kriminal di dunia ini, faktor utamanya adalah uang. Kalau kita ikuti kemana uang mengalir, gampanglah kita temukan siapa berperan terhadap apa. Maka tak heran, dalam sebuah laporan jurnalisme, sering saya baca, yang paling berperan justru akuntan. Mereka menyewa akuntan untuk memahami angka-angka tersebut dan kenapa angka-angka tersebut jadi aneh.

Jadi, apakah uang berperan dalam kasus-kasus itu. Tampaknya ada. Dalam sebuah wawancara, Inu Kencana, dosen yang melaporkan kasus IPDN ke polisi dan media massa berkata, saat ini terlalu banyak mahasiswa yang masuk melalui jalur tak resmi, kebanyakan anak pejabat (sayang saya tidak mempunyai referensi, tapi saya pernah lihat di sebuah berita TV, entah SCTV, ANTV). Seandainya ada anak pejabat tinggi aktif yang terlibat dalam kekerasan di IPDN, alangkah wajar kalau seandainya masalah kekerasan ini menjadi terkesan sulit untuk diungkap.

SCTV telah memerankan perannya. Media lain tentu tidak ingin ketinggalan. Saya juga sedang menantikan liputan majalah Tempo tentang kasus ini. Di era demokrasi yang semakin membaik (meski belum ada indikator yang cukup menarik tentang negeri ini), kita bisa menikmati iklim kebebasan informasi yang sehat. Informasi yang bebas akan membantu dalam memperbaiki beberapa atau seluruh aspek untuk kebaikan negeri ini. Iklim kritik yang sehat, umpan balik yang hidup, semuanya adalah pesta bagi hidupnya media massa di Indonesia. Media tampaknya makin sadar, tumbuh kembangnya usaha mereka bukan karena berfokus untuk menggandeng sponsor lebih banyak, tetapi memberitakan dengan lebih baik. Berita yang baik, berita yang memuaskan ingin tahu pembaca/pemirsa/pendengar. Semakin banyak penikmat media, sponsor tentu akan datang sendiri.

Media lain yang patut mendapat pujian adalah Surat Pembaca Kompas. Ya, rubrik Surat Pembaca itu. Dalam suatu edisi akhir 2006, Kompas menurunkan maklumat bahwa setiap jawaban Surat Pembaca, sebagai hal jawab, harus disertai penjelasan yang logis. Misalnya, ada perusahaan yang dilaporkan pembaca telah lalai terhadap salah satu layanannya. Pada masa sebelumnya, jawaban perusahaan tersebut cuma berisi, “Kita telah menghubungi yang bersangkutan. Masalah telah diselesaikan dengan baik.” Sangat tidak memuaskan bukan? Kompas tahu hal itu, untuk memuaskan keingintahun pembaca, juga sebagai tanggungjawab sosial, maka perusahaan atau siapa pun yang menjawab harus menjelaskan secara masuk akal bagaimana masalah diselesaikan. Dan jadilah Surat Pembaca Kompas menjadi sangat hidup.

Hal kedua tentang Kompas adalah tentang byline. Byline adalah pernyataan tentang siapa yang mempunyai authoritative terhadap sebuah tulisan atau laporan. Dengan memuat jelas siapa menulis apa, Kompas berusaha menegaskan bahwa laporan mereka kredibel. Hal kecil ini penting! Memang yang paling bertanggungjawab dalam setiap berita adalah pemimpin redaksi, tapi dengan memuat pernyataan byline yang tegas, media juga memilih untuk: 1) menghargai reporternya dengan kredit pemberitaan; 2) tanggungjawab kepada publik. Seandainya dalam sebuah laporan media ada masalah, pembaca akan langsung tahu siapa yang bertanggungjawab. Tentu tidak secara langsung mereka akan dihukum, ingat Pemimpin Redaksi yang bertanggungjawab! Tapi selanjutnya pembaca akan lebih kritis terhadap reporter tersebut. Secara tidak langsung, hal ini juga memaksa reporter untuk bertanggungjawab terhadap setiap berita yang ditulisnya. Secara tidak langsung, hal ini lebih meringankan tugas pemimpin media kepada pembacanya, yang secara tidak langsung pula dapat memaksa mereka untuk lebih teliti memeriksa berita sebelum diumumkan ke publik.

Sayang, byline Kompas belum diatur untuk semua tulisannya. Padahal, di media asing, byline adalah sangat umum. Bahkan, untuk berita resensi jadwal kegiatan umum, mereka pun mempunyai byline, orang yang bertanggungjawab. Dengan byline, orang akan langsung tahu siapa yang menulis apa. “O, dia kok terlalu memuji kegiatan perusahaan ini? Apakah dia ada hubungannya dengan lembaga ini? Apakah dia dibayar?” Dan seterusnya. Kalau ada yang berdalih, sebuah tulisan tidak selalu dibuat oleh satu orang. Ya, memang, tapi selalu ada seseorang yang terakhir dan mempunyai otorisasi terhadap materi itu. Entah inisiator, entah penentu pemuatan (Redaksi Pelaksana, Redaksi RUbrik), dan seterusnya.

Media harus selalu sadar tentang hal ini. Tanggungjawab sosial, kalau dalam lema demokrasi mereka disebut sebagai Pilar Keempat, adalah yang pertama harus dijunjung. Masalah uang bagaimana? Uang akan datang kalau berita Anda dinikmati lebih banyak orang.

Oya, jangan lupa meminta maaf kalau salah dong! Publik akan selalu menghargai setiap orang yang mengerti dirinya salah. Jadi ingat kasus hilangnya Adam Air. Media massa dengan berbekal sebuah sumber segera ramai-ramai memberitakan ditemukannya pesawat ini di Manado. Apa lacur, ternyata itu sumber bohong. Mereka memang memberitakan temuan baru di lokasi baru (dekat pantai Ujungpandang), tapi tidak ada media yang meminta maaf tentang bagaimana mereka telah melakukan kesalahan fatal itu.

Mohon maaf kalau tulisan ini terlalu gombal, ini hanya tulisan seorang programmer yang kebetulan punya cita-cita ingin jadi wartawan. Penulis hanya tahu cerita tentang jurnalisme dari majalah New Yorker dan majalah Pantau, nonton film-film jurnalisme, dan juga penggemar buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach.

Mempunyai media yang tangguh dan bertanggungjawab adalah kenikmatan terbaik buat seorang warga negara. Selamat bekerja untuk rekan wartawan.

Tulisan lain tentang jurnalisme dan media:

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [6] posted 12/04/07 09:35 AM.

Negara para Praja

Ada sebuah negara di dalam negara Indonesia. Namanya, Negara para Praja. Namun, dalam diplomasi ke pihak luar, mereka menyebut diri IPDN, Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Dulu namanya STPDN, Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri.

Negeri inilah tempat digemblengnya para calon pamong praja. Orang-orang yang konon akan memimpin masyarakat Indonesia di seantero Nusantara. Orang-orang pilihan, diangkut dari seluruh tanah yang dijanjikan, dijamin cita-cita dan masa depannya, entah menjadi camat atau lurah, atau pegawai negeri sipil umumnya.

Sayang, mereka bukan Nabi atau Orang Suci. Meski dijanjikan Surga oleh Tuhan, Nabi tetap mengabdikan hidupnya menolong manusia untuk berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Tapi mereka adalah praja, calon camat dan lurah. Diijanjikanlah pangkat dan terlenalah mereka. Takdir menjadi raja kecil, maka belajarlah mereka berulah menjadi raja. Raja kecil yang lalim dan murka.

Empat tahun lalu kita dengar beritanya. Kita pun lihat rekamannya. Demi senioritas, siswa baru digilir-hantam dadanya. Jiwa remuk redam, nurani langsung padam, budi pekerti sirna dan berganti dendam. Sepuluh, entah berapa puluh lagi, senior lelaki, senior perempuan, bergilir menghajar dengan tangan, tinju, atau tendangan kaki.

Ihwal kejadian yang memalukan empat tahun lalu itu, akhirnya para pemilik negeri tersebut pilih ganti nama. Keputusan yang jitu oleh para penentu relasi publik negara ini. Buktinya, empat tahun berlalu tanpa kejadian apa-apa terdengar dari negara ini. Kejadian menggembirakan ataupun memalukan, bahkan mungkin kita jadi lupa ada negara ini.

Beberapa hari yang lalu, terdengar berita duka dari negara ini. Seorang Praja Nindya, demikian siswa sekolah di negara ini dipanggil, siswa tahun pertama bernama Cliff Muntu, tewas mengenaskan. Lima temannya (satu orang katanya tidak terbukti) memukulinya hingga demikian. (Update: Tersangka berkembang menjadi sepuluh orang)

Entah ini tragis apa hebat, berita ini dapat kita dengar karena seorang dosen membocorkan ke media massa. Dosen yang empat tahun lalu juga berbicara kepada media massa ini, seorang guru yang ingin sekolah tempatnya mengajar berubah. Dalam rekaman kemarin (entah di stasiun apa, lupa saya), sang dosen diusir oleh dosen yang lebih senior, kelasnya dibubarkan. Sang dosen senior yang tidak disebutkan namanya berkata bahwa sistem inilah STPDN atau IPDN. Tidak ada orang yang berhak mengubahnya. Inilah sistem yang berhasil mendidik calon pamong praja negeri ini.

Tidak ingin berubah, itu kunci kita bila ingin memasuki Negara para Praja ini.

Apakah ini neraka? Saya rasa bukan. Inilah suatu tempat di mana kebodohan merajalela. Ah, saya rasa bodoh juga tidak, siswa-siswa di Negara para Praja adalah pilihan dari masing-masing daerahnya. Yang mungkin tepat, inilah tempat dimana nurani hilang. Tempat kebobrokan bersemi. Tempat berjamurnya angkara murka.

Yang kita heran, kenapa angkara murka ini tidak berubah, bahkan seorang ibu dari siswa yang dirumahsakitkan bilang, “Mohon bapak jangan siarkan anak saya. Biarlah ia remuk badannya sekarang, nanti juga sembuh. Yang penting sekolahnya lancar dan lulus menjadi pejabat”

Takdir menjadi pejabat adalah kunci kebobrokan dan awal mula angkara murka. Takdir menjadi raja kecil. Takdir yang menciptakan monster berjuluk senior. Monster yang menghilangkan sebagian besar nurani para praja ketika di hari pertama mereka menghadiahkan bogem, tinju, sodokan, dan tendangan di tempat-tempat vital di sekujur badan meraka. Pesta besar para senior untuk membalas dendam dan menciptakan hilangnya nurani dan kebaikan dari sekolah ini.

Hemat saya, bubarkan saja IPDN. Era otonomi sudah ada. Ketua RT saja dipilih langsung. Tidak ada gunanya menghabiskan dana milyaran untuk menghadiahkan janji surga atau kerajaan kecil bagi orang-orang kejam seperti itu. Belajarlah berkompetisi wahai siswa IPDN atau calon pamong praja lainnya. Bukan menghajar jiwa-jiwa muda yang seharusnya kalian didik.

Catatan: sebenarnya ada banyak kejadian memalukan tentang IPDN kalau kita menelusuri berita dengan lebih teliti. Ada pengunduran diri seorang praja, tindakan amoral, minum racun, 9 praja dipecat, dan banyak penganiayaan. Entah faktor apa kejadian terakhir menjadi lebih heboh.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [35] posted 06/04/07 03:07 PM.

Masruri dan Anak-anak Naga


© MetroTV

Acara bincang-bincang Kick Andy di MetroTV, Minggu, 31 Maret 2007 lalu (siaran ulang) menampilkan fenomena yang menarik. Andy Noya, sang presenter, menghadirkan beberapa anak hebat, makanya saya sebut saja Anak Naga. Naga adalah binatang legenda yang sering diibaratkan prestasi atau puncak kehebatan.

Anak-anak Naga ini ada banyak jumlahnya di Indonesia. Kita tentu bangga dengan hal ini. Sebut saja Rafi, drummer jazz dalam usianya yang belia (berapa ya? 10 tahun?) sudah melanglang buana, membuat album Can’t Stop the Beat, diproduksi oleh Harvey Mason, drummer Fourplay. Jangan-jangan saya nanti jadi penggemar Rafi juga, setelah saya juga suka musik-musik kuartet Mason bersama Lee Ritenour dkk itu. Gadis kecil berprestasi lainnya, Nilam Zubir, 11 tahun, juga berprestasi mewancarai 160 orang lebih tokoh Indonesia.

Ada pula Labiqoh, putri kecil berusia lima tahun berasal dari kota Apel, Malang, Jawa Timur. Baru saja ia mengadak pameran lukisan menggelar 40 karyanya. Dan, lukisan tersebut laku semua! Selain pandai melukis, Labiq, begitu ia dikenal, pandai pula membacakan puisi. Saya sendiri kagum dengan cara intrepretasi syair, dramatisasi, dan puitisasi yang dibawakannya. Padahal, puisinya bukan kategori tema anak-anak.

Ada pula tiga pembuat film cilik, Sifa dkk, yang menjuarai prestasi film dokumenter Panasonic (?) dan juga dalam kompetisi dunia. Film lima menitnya, mendokumentasikan pembuatan angklung, alat musik tradisional khas Indonesia. Juga tak dilupakan Meiliana, gadis SMP berusi 13 tahun ini, ia mampu menghitung perkalian 8 digit dengan 4 digit angka, hanya dalam hitungan detik! I juga menjuarai berbagai prestasi internasional, meraih rekor MURI, dan memecahkan kembali rekor sebelumnya atas namanya sendiri.

Masruri dan Monica


© Liputan6

Masuri Rahmat, asal Kemayoran, Jakarta, adalah Anak Naga yang menjadi sorotan kali ini. Anak sopir bajai ini telah meraih prestasi juara pertama kejuaraan tingkat ASEAN dan masuk 10 besar pecatur dunia untuk kelas anak. April ini, ia akan mengikuti kejuaraan catur dunia untuk anak di Yunani. Sang Anak tidak merasa ekonomi ayahnya menghalangi prestasinya. Selain itu ada pula Monica, bocah kelas VI SD di Balikpapan, Kaltim, juga akan mengikuti kejuaraan catur anak di Yunani. Prestasi Monica diraih di tengah kesibukannya membantu ibunya berjualan sayur dan sembilan bahan pokok di rumah kontrakannya. Di tengah kemiskinan, mereka mampu meraih prestasi gilang gemilang dan mengharumkan nama bangsa ke seluruh dunia.

Pada 27 Maret lalu, Masruri diundang ke SCTV untuk wawancara langsung di Liputan6 bersama Bayu Setiono.


Ia dan enam saudaranya tinggal di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat, di permukiman padat dan miskin. Ruang tempat tinggalnya cuma seluas 2×3 meter. Tapi, puluhan piala dan medali menghiasi ruangan kecil ini. Total dia berhasil mengalahkan 168 orang.

Indonesia banyak menyimpan atlet cilik berbakat, tapi kurangnya perhatian dari pemerintah membuat bakat-bakat terpendam itu sulit berkembang. Hal itu diakui Masruri. “Sudah jadi grandmaster dunia, tapi hidupnya kok tidak berubah,” ujar Masruri kepada Bayu Sutiono dalam dialog Liputan 6 Pagi. Anak sopir bajaj itu menambahkan, saat hendak bertanding, Masruri terlebih dahulu meminjam uang ke tetangga.

Pengalaman menyedihkan itu pernah dirasakan Masruri kala mengikuti turnamen tingkat ASEAN di Ancol, Jakarta Utara, setahun silam. Usai meraih empat medali di kejuaraan itu, Masruri pulang ke rumahnya di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan berjalan kaki.

Bayangkan, untuk maju ke turnamen internasional, harus membiayai sendiri dengan cara berhutang. Apakah para pejabat Percasi, atau Menteri Olahraga, atau paling tidak Bupati tidak tahu. Prestasi seperti ini tentu bisa terdeteksi. Kalau toh tidak ada anggaran, apakah tidak mungkin meminta tolong, bilang ke media massa seperti SCTV itu.

Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault mengatakan, keluarga Masruri baik ayah dan kakak tidak diperkenankan ke Yunani. Katanya, hanya pelatih yang diperbolehkan ikut tandang ke pertandingan internasional. Padahal mereka selama ini menjadi pelatih Masruri.

“Kalau orang tua ikut dalam setiap pertandingan maka anak-anak itu tidak menjadi mandiri. Jadi ketentuannya baik miskin atau kaya kalau bertanding di luar, orang tua tak boleh ikut,” kata Adyaksa dalam Liputan 6 Pagi, Rabu (28/3).

Jawaban ini menurut saya tidak simpatik. Pertama, orangtuanya adalah pelatihnya. Kedua, kita berhadapan dengan anak, yang tidak ada hubungannya dengan mandiri atau tidak. Tentu sangat wajar bila anak-anak didampingi orangtuanya. Sangat manusiawi. Mereka adalah bintang yang akan berprestasi, sebisanya didukung. Biaya ke Yunani berapa sih, akomodasi dll, 10-20 juta per orang, apakah ini tidak bisa dicari? Kerjasama dengan sponsor? Meminta keringanan dan bantuan panitia, bantuan pada kedutaan Yunani? Tidak ada salahnya toh? Lebih baik malu mengakui kekurangan (tidak ada dana), daripada menghancurkan calon-calon bibit prestasi belia ini.

Soal Masruri, Adyaksa menegaskan bahwa tak semua masalah dilimpahkan ke Departemen Pemuda dan Olahraga. Sebab yang menemukan bakat dari bakal atlet itu ada Percasi. Adyaksa mengatakan sudah meminta 100 rumah untuk atlet yang berprestasi pada tahun depan. “Saya minta ngotot,” kata dia.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

Ini adalah tanggungjawab kita bersama. Inilah jawaban standar para pejabat kita. Dalam kutipan lainnya, pak Menteri berkata,

Sebelumnya, pemerintah dan Percasi yang menaungi cabang catur di Tanah Air keberatan bila dituding tak memberikan perhatian bagi atlet berprestasi tingkat dunia. Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault, bibit unggul di dunia olahraga yang berasal dari keluarga miskin bukan hanya Masruri. “Kita ini punya ratusan orang seperti Masruri,” ujar Adyaksa [baca: Menpora: Bukan Hanya Masruri yang Miskin].

Untunglah, simpati untuk pecatur cilik berbakat berdatangan terus, termasuk bantuan dana menjelang persiapan Kejuaraan Dunia Catur di Yunani.

Kalau saja Masruri itu anak kita sendiri, kita tentu akan mengusahakan apa saja, seperti yang dilakukan orangtuanya, termasuk berhutang, agar anaknya bisa maju bertanding dan berprestasi. Gagal suksesnya anak kita adalah kebanggaan. Bila gagal, setidaknya ia pernah mencoba, dan kita bangga dengannya. Bila sukses, siapa lagi yang akan bangga.

Sayang, para pejabat kita bukan orang tua yang melindungi anak-anaknya.

Share: bookmark at del.icio.us  digg this  add to reddit  share on facebook  stumbleupon this

Komentar [5] posted 02/04/07 11:15 AM.

Previous Next